Pelajaran 10: Tuhan atas Pekerjaan Kita

Tuhan atas Pekerjaan Kita

(Kolose 3, Lukas 3, Matius 6)

Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan:  Pelajaran 10

 

Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D.  Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain.  Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran.  Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Pendahuluan:  Pekerja yang bagaimanakah seharusnya seorang Kristen itu?  Haruskah keyakinan agama mempengaruhi pekerjaan duniawi saudara?  Jika kita pekerja yang baik, apakah hal itu merefleksikan Allah kita?  Apakah Alkitab memberi kita petunjuk praktis pada pekerjaan kita sehari-hari?  Haruskah kita menjadi bagian dari serikat pekerja?  Mari kita mengerjakan pelajaran kita!

 

1.      Pekerja Kristen

 

1.      Baca Kolose 3:22.  Ayat ini ditujukan kepada “hamba-hamba.” Saya sangsi kalau ada pembaca pelajaran ini yang menjadi hamba secara harafiah.  Atas alasan apa nasehat ini berlaku bagi pekerja? Atas alasan apa itu tidak berlaku?  (Perbedaan antara seorang pekerja dan seorang hamba adalah bahwa pekerja dapat berhenti dari pekerjaannnya kapan saja ia mau.  Sebagi tambahan, sang tuan tidak mungkin “memecat” hambanya.  Jika seorang hamba, yang tidak dapat dipecat harus menuruti nasihat ini, apalagi seorang pekerja yang dapat dipecat?  Naga-naganya jika saudara tidak mau menuruti nasihat bagi hamba-hamba terkait dengan majikan saudara yang sekarang, saudara harus ganti pekerjaan.)

 

1.      Jika kita sepakat bahwa nasehat ini relevan bagi pekerja yang ingin mempertahankan pekerjaan yang dimilikinya sekarang ini, apa yang ayat ini ajarkan soal kebutuhan kita akan pengawasan?

 

1.      Apakah cara bekerja saudara berbeda jika atasan saudara sedang cuti?

 

2.      Perhatikan bahwa Paulus menghubungkan hal menjadi seorang pekerja yang baik tidak hanya sekedar untuk menyenangkan atasan, tapi dengan “tulus hati karena takut akan Tuhan.”  Secara rohaniah apa urusannya dengan menjadi seorang pekerja yang rajin?  (Paulus percaya adanya keterkaitan yang tidak disebutkan antara hubungan kita kepada Allah dengan menjadi seorang pekerja yang baik.)

 

2.      Baca Kolose 3:23-24. Paulus kini mengungkap kaitan antara pekerjaan rohaniah dan duniawi kita.  Apakah itu?  (Kita perlu menganggap bahwa Allah adalah majikan kita!  Kita harus bekerja sebagaimana layaknya kita bekerja bagi Allah.)

 

1.      Mengapa demikian? (Paulus mengatakan bahwa Allah akan membayar kita.  Ia akan memberi kita upah berupa warisan.)

 

1.      Mengapa Allah mengkaitkan pekerjaan duniawi kita dengan kewajiban agama kita? (Allah pastilah percaya bahwa kualitas pekerjaan kita direfleksikan kepadaNya.)

 

3.      Baca Kolose 3:25.  Akankah Allah menghukum kita jika kita melakukan kesalahan terhadap majikan kita?

 

4.      Mari baca Kolose 4:1 untuk mendapatkan pandangan yang berimbang.  Apa yang diminta Allah dari majikan?  (Allah berkata kepada para majikan bahwa sejatinya mereka bertanggung jawab kepadaNya, karenanya mereka harus berlaku “jujur dan adil” terhadap para pekerja mereka.)

 

2.      Serikat Pekerja

 

1.      Baca Lukas 3:14.  Bagaimana nasehat dari Yohanes ini dikaitkan dengan keputusan seorang pekerja untuk bergabung atau tidak bergabung dengan serikat pekerja?

 

1.      Bagaimana dampaknya terhadap keputusan seorang pekerja untuk mogok kerja? (Jika saudara menerima nasehat Paulus dalam buku Kolose untuk bekerja layaknya saudara bekerja bagi Allah, dan saudara menambahkan nasehat Yohanes untuk puas dengan upah saudara dan tidak memeras uang, saya tidak melihat adanya ruang untuk mogok.  Mogok kerja, khususnya mogok yang brutal di mana barang-barang milik majikan dirusak dan pekerja pengganti diteror, adalah pemerasan.)

 

2.      Adakah nasehat Yohanes untuk “cukupkanlah dirimu dengan gajimu” berarti kita tidak bisa berganti pekerjaan?  (Jika saudara renungkan nasehat Yohanes kepada para prajurit, ia mengatakan “Jangan mempertambahkan bayaranmu dengan memeras orang untuk mendapatkan uang.”  Hal itu berlaku juga bagi pertanyaan soal mogok, tapi sepertinya tidak mencegah kita dari berganti pekerjaan jika majikan lain sedia membayar lebih.)

 

2.      Apakah nasehat untuk bekerja layaknya kita sedang bekerja bagi Allah, dan nasehat untuk puas dengan upah kita, merupakan nasehat yang berlaku hanya untuk zaman lain?  Relevankah hal itu kini?  (Karena saya sering terbang, jika memikirkan mogok, saya terpikir tentang Eastern Airlines.  Itu adalah satu dari perusahaan penerbangan terbesar pada suatu ketika.  Pekerja-pekerja yang mogok menyebabkan Eastern berhenti beroperasi.  Lantas pekerja-pekerja ini tidak memiliki pekerjaan. Sungguh sebuah ide yang hebat!  Tidak senang dengan jumlah bayaran saudara?  Buatlah perusahaan majikanmu terhenti supaya saudara tidak dibayar!)

 

3.      Nasehat Yohanes bagi para prajurit untuk mengumpulkan hanya sebanyak jumlah yang menjadi hak legal mereka mempunyai penerapan lain.  Jika saudara bekerja sebagai manajer dan saudara menyesatkan para pemegang saham soal kesehatan finansial dari perusahaan, apakah saudara juga termasuk sasaran dari nasehat Yohanes? (Ya.  Sementara Yohanes merujuk kepada ihwal mengambil paksa uang dan tuduhan palsu, secara logika hal itu juga berlaku bagi penipuan oleh pemaparan yang keliru.)

 

1.      Adakah nasehat Yesus berlaku dalam hal mengutil inventaris majikan saudara?  Mencuri waktu bertelepon?

 

2.      Jika saudara mewakili pemerintah, dan saudara menerima suap, apakah nasehat Yohanes berlaku bagi saudara?

 

3.      Sifat Alamiah dari Bekerja

 

1.      Jika saudara menang lotere, atau mewarisi milyaran, akankan saudara berhenti bekerja?

 

2.      Baca Kejadian 2:15.  Ini menceritakan periode waktu sebelum masuknya dosa ke dalam dunia.  Apakah Adam membutuhkan uang atau harta milik?

 

1.      Menurut saudara, mengapa dalam sebuah dunia yang sempurna Allah memberi Adam pekerjaan?

 

3.      Baca Kejadian 3:17-19.  Bagaimana pekerjaan Adam berubah setelah masuknya dosa?

 

1.      Apakah ini berarti bahwa ada aspek dari bekerja yang merupakan hukuman untuk dosa kita?

 

2.      Berapa lama Adam diberitahu bahwa ia harus bekerja?

 

4.      Baca Keluaran 20:8-10.  Kita senantiasa menghapalkan ayat ini untuk perintah positif agar menjaga kesucian Sabat dengan tidak bekerja.  Perintah lain apa yang kita temukan di sini? (Agar bekerja pada enam hari lainnya.)

 

1.      Apakah ini artinya kita perlu bekerja enam hari, atau apakah itu artinya kita mempunyai enam hari untuk menyelesaikan pekerjaan kita.  Jika kita menyelesaikannya dalam, katakanlah, empat hari, apakah baik demikian?

 

5.      Tatkala kita mempelajari “Tuhan atas Sumberdaya Kita,” kita mempertimbangkan cerita berikut ini.  Baca Lukas 12:16-21.  Penghukuman Yesus terdapat dalam Lukas 12:21 – orang tersebut tidak kaya di hadapan Allah.  Jika saudara menimbun sumberdaya untuk masa pensiun, apakah saudara tidak “kaya” di hadapan Allah?

 

1.      Apakah ada saat dalam hidup di mana kita dapat mengatakan dengan tepat apa yang dikatakan petani ini dalam Lukas 12:19?

 

6.      Baca Mazmur 92:13-16.  Apa yang Pemazmur utarakan bagi lansia? (Masih tetap berbuah)

 

7.      Kecuali seorang dari pembaca dapat mengkoreksi saya, di seluruh Alkitab hanya Salomo yang membicarakan seorang tua yang “menikmati hartanya.” (Pengkhotbah 6:3&6) Saya tidak menemukan contoh tentang seorang pengikut Allah yang duduk-duduk saja dan tidak berbuat apa-apa.  Kelihatannya kisah petani dan lumbungnya menunjukkan kepada kita bahwa bermalas-malasan, sementara kita secara fisik masih bisa menjadi berkat bagi orang lain, adalah sikap mementingkan diri.  Semua pahlawan Alkitab meninggal sementara masih meneruskan tugas yang Allah percayakan kepada mereka.

 

4.      Tuhan dari Pekerja

 

1.      Baca Matius 6:28-34.  Mari fokus pada ayat 32 dan 33.  Ketika Yesus mengatakan “semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah,” apakah ia sedang berbicara tentang kerja keras? (Pastilah demikian.)

 

1.      Jika kita harus menjadi pekerja yang rajin, bekerja layaknya Allah adalah majikan kita, bukankah kita perlu bekerja keras?  Jika demikian, mengapa kerja keras para penyembah berhala ditolak? (Matius 6:33 memberi kita keseimbangan yang dicari Allah.  Dalam setiap kerja kita, kita perlu untuk mencari lebih dahulu kehendak Allah.  Kelihatannya para penyembah berhala mencari uang.  Allah berjanji bahwa jika kita mencariNya lebih dahulu, Ia akan memberikan apa yang kita perlukan.  Kita tidak akan perlu khawatir.)

 

2.      Sobat, Allah memberikan rumus untuk pekerjaan kita sehari-hari.  Carilah dahulu untuk melakukan kehendak Allah.  Bekerjalah layaknya Allah adalah majikan kita.  Jujur dan puaslah dengan upah kita.  Jika kita melakukan hal-hal ini, Allah memanggil kita untuk meninggalkan kecemasan-kecemasan dari tempat kerja kita di belakang dan percaya padaNya semata untuk keperluan kita.  Akankah saudara menerima rumus bekerja dari Allah bagi hidup saudara?

 

5.      Penggalian Berikutnya:  Tuhan atas Ibadah Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: