Keliru

KELIRU

 

            Dua orang pemuda sedang asyik menikmati pemandangan di daerah pegunungan ketika sekonyong-konyong turun hujan lebat. Serentak keduanya mengambil langkah seribu menuju mobil yang diparkir agak jauh.          

Di tengah guyuran hujan, sesaat setelah menghidupkan mesin mobil dan bergegas hendak pergi, tiba-tiba jendela di sisi penumpang diketuk orang dari luar. Seraut wajah lelaki kumal melongok dari balik kaca.

            “Buka sedikit saja kaca mobil dan tanya dia mau apa,” kata pemuda yang duduk di belakang setir.

            “Boleh minta makanannya?!” kata lelaki asing itu.

            Pemuda di kursi penumpang buru-buru menyodorkan roti lalu menutup kembali jendela mobil. “Ayo tancap!” teriaknya kepada temannya yang langsung menginjak gas.

            Beberapa menit berlalu. Di bawah hujan yang semakin deras, tiba-tiba jendela mobil diketuk lagi. Wajah kumal yang sama itu muncul lagi.

            Koq dia masih bisa ngejar kita? Jangan-jangan hantu!” kata pemuda di kursi penumpang.

            “Tanya saja, dia mau minta apa lagi?” desak temannya tanpa berhenti menginjak pedal gas sehingga menimbulkan suara mesin mobil yang menderu-deru.

            “Minta air minumnya!” kata lelaki dari balik kaca jendela itu.

Sebotol air mineral disodorkan kepadanya dan lelaki itupun menghilang.

            “Sialan, daerah sini rupanya angker ya,” kata pengemudi sambil kakinya terus memacu gas.

            Baru saja dia selesai bicara tiba-tiba kaca jendela mobil diketuk lagi, dan…lelaki yang sama menampakkan wajahnya kembali.

            “Gila! Kita gak bisa lolos dari hantu!” teriak pengemudi. “Coba tanya, dia mau apa lagi?!”

            Dengan tangan gemetar temannya menurunkan kaca jendela mobil untuk ketiga kalinya. “Perlu apa lagi, pak?”

Tapi lelaki yang disangka hantu itu balik bertanya: “Kalian perlu bantuan untuk menarik mobil ini keluar dari lumpur?”

 

(Pesan moral: Kehidupan rohani kita sering seperti ini, serasa sedang melaju padahal cuma berjalan di tempat. Ketika ada orang hendak mengingatkan malah dianggap mengusik “comfort zone” kita. Alkitab menasihati agar terus mencapai “kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” [Efesus 4:13]. Caranya? Dengan menjadi “sama seperti bayi…yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan” [1Petrus 2:2].)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: