Hikmat Pengemis

HIKMAT PENGEMIS

 

      Dua orang peminta-minta duduk berdampingan di emperan, yang seorang memajang gambar salib di kaleng penampung uang sedekah, sedang yang lainnya memajang gambar ka’bah.

      Menjelang sore kaleng milik pengemis yang memajang gambar salib terlihat sudah terisi cukup banyak uang dari berbagai pecahan, sementara kaleng berlambang ka’bah hanya terdapat beberapa keping uang logam saja.

      Seorang pendeta yang kebetulan lewat di jalan itu memerhatikan lalu mendekati pengemis yang memajang gambar ka’bah pada kalengnya, lalu berbisik:

      “Dik, di sini daerah Kristen. Kamu tidak akan mendapat banyak uang sedekah kalau memasang gambar ka’bah itu,” tegurnya sambil mengisi sekeping logam dan berlalu.

      “Bang, barusan bapak itu bilang apa?” tanya pengemis yang memajang gambar salib.

      “Dia suruh supaya gambar ka’bah ini dicabut,” sahut pengemis yang lain. “Biar aja, bapak itu gak tahu kalau kita berdua kakak-beradik!” 

 

(Pesan moral: Pengemis canggih bukan hanya bermodalkan alat musik listrik atau alat pemutar lagu seperti yang biasa berkeliling kampung, tapi juga menggunakan otak dengan “strategi pemasaran” yang jitu. Hikmat tak selamanya datang dari orang yang pintar dan cerdas menurut ukuran dunia, sebab “apa yang bodoh bagi dunia dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat…” 1Korintus 1:27.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: