Tidak Adil

TIDAK ADIL

           

Merasa nyaman berkendara di jalan tol, seorang pendeta muda memacu mobilnya di atas batas kecepatan. “Lagipula mobil-mobil lain juga berlari sama kencang,” katanya membatin.

            Tetapi tiba-tiba dia terkesima ketika mendengar suara sirene. Polisi memerintahkannya supaya menepi dan menghentikan kendaraannya di bahu jalan.

            “Keluarkan SIM anda,” perintah polisi.

            “Kesalahan saya apa?” tanya pendeta muda itu.

            “Anda mengemudi di atas batas kecepatan,” tukas polisi sembari menyerahkan surat “tilang” (bukti pelanggaran).

            “Baiklah, saya ini seorang pendeta. Saya tidak mau berbohong. Tadi memang saya lari di atas 100,” akunya. “Tapi mobil-mobil lain juga belari di atas 100. Kenapa hanya saya yang ditilang? Ini tidak adil!”

            “Begini, pak pendeta,” ujar polisi. “Waktu bapak mengadakan KKR, apakah semua jiwa yang hadir berhasil bapak selamatkan? Itu juga tidak adil!”

 

(Pesan moral: Soal keselamatan—seperti pelanggaran lalulintas—adalah pilihan orang yang bersangkutan; sementara itu, di sisi lain, usaha penarikan jiwa—seperti juga tindakan polisi terhadap pelanggar lalulintas—sering lebih terdorong oleh pencapaian target! Upaya yang lebih bersifat kuantitatif. Seyogianya penginjilan dilakukan dengan serius dan penuh pengorbanan bagai petugas pemadam kebakaran menyelamatkan nyawa korban, sesuai perintah ini: “Selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api” Yudas 1:23)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: