Duel

DUEL

 

            Jimi, anak kepala diakon berumur delapan tahun, pulang ke rumah dengan hidung berdarah-darah sambil menangis tersedu-sedu.

            “Kenapa kamu? Berantem lagi ya?” tanya ayahnya kepada anak sulungnya yang memang suka berkelahi.

            “Tadi saya duel dengan si Sudung,” kisahnya.

            “Sudung yang bapaknya ketua jemaat itu?”

            “Iya, pak. Habis dia gangguin saya terus.”

            “Lho? Badannya ‘kan lebih kecil dari kamu, koq kamu kalah?”

            “Saya tantang dia, pak. Saya bilang, dia boleh pakai apa saja sebagai senjata.”

            “Hmm. Lalu?”

            “Saya nggak sangka dia pakai bapaknya!”

 

(Pesan moral: Gereja juga sering dijadikan arena untuk berduel, sebagian karena sikap kekanak-kanakan, sebagian lagi karena temperamen yang belum disucikan. Sebab “si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar, banyak pelanggarannya” [Amsal 29:22]; karena itu, “hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran” [2Timotius 2:23].)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: