Bingkisan

BINGKISAN

 

            Hari itu murid-murid kelas 4 SD mengadakan acara perpisahan dengan guru agama mereka yang dialihtugaskan ke sekolah lain. Anak-anak sangat menyayanginya, karena selain ramah dan lembut juga pintar bercerita kisah-kisah dari Alkitab.

            “Bu Guru, kami akan memberikan bingkisan kenang-kenangan,” ketua kelas memberitahukan, yang disambut dengan senyum haru oleh guru mereka itu.

            Seorang murid perempuan, anak pemilik toko kembang, maju dan menyerahkan bingkisan agak panjang tapi ringan. “Ibu tahu, ini pasti karangan bunga,” kata Bu Guru ceria.

            “Betul, bu. Tapi bagaimana ibu tahu?” tanya murid perempuan itu.

            “Ah, ibu hanya menebak saja.”

            Murid kedua maju. Anak pembuat kembang gula dari cokelat itu menyerahkan sebuah kotak. “Kalau ini isinya pasti permen cokelat,” kata Bu Guru.

            “Betul. Bu guru koq tahu ya?” tukas anak itu.

            “Ya, ibu cuma tebak saja.”

            Boy, anak penyalur minuman anggur dalam botol, maju menyerahkan bingkisannya. Tapi tampaknya ada cairan yang  meleleh keluar. Mungkin ada yang bocor, pikir Bu Guru. Dengan ujung telunjuknya Bu Guru mencicipi cairan yang meleleh itu lalu berkata, “Apakah ini minuman anggur putih?”

            “B-u-k-a-n,” jawab Boy.

            Bu Guru mencicipi untuk kedua kalinya. “Oh, ini seperti sampanye ya?”

            “Bukan juga,” sahut anak itu riang karena gurunya salah tebak lagi.

            “Ibu menyerah deh,” ujar Bu Guru pada akhirnya. “Apa isinya, Boy?”

            “Anak anjing, Bu!” seru anak itu.

Bu Guru terkejut bukan alang-kepalang sembari wajahnya berubah kecut. Hyaak!

 

(Pesan moral: Banyak masalah timbul karena kita tidak tahu sesuatu, tetapi lebih banyak lagi masalah yang terjadi akibat kita terlalu banyak tahu. Terkadang ‘bersikap tidak tahu’ lebih bijaksana daripada ‘berlagak serba tahu.’ Sebab itu, “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat” [1Korintus 3:18].)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: