Berpakaian Pantas

BERPAKAIAN PANTAS 

 

            Kebaktian di gereja yang mentereng itu hampir dimulai. Para jemaat tampak memasuki rumah perbaktian itu dengan pakaian yang necis, bermerek, bersolek, menebarkan aroma harum beraneka ragam. Kecuali seorang pria setengah baya yang bajunya agak kumal dan tentu saja tidak wangi. Dia datang ke gereja dengan mengayuh sepeda.

            Jelas sekali pria ini adalah tamu yang baru pertama kali masuk gereja itu, dan tampaknya dia mengunjungi sebuah gereja yang “salah” karena tidak cocok dengan keadaannya. Buktinya tidak seorangpun yang menyalami, bahkan sebagian orang memandangnya dengan nyinyir.

            Dalam khotbahnya pendeta berbicara tentang kebutuhan dana yang besar untuk menyokong program gereja, angka-angka yang amat mencengangkan di telinga pria itu.

Tetapi yang lebih mengejutkan lagi ialah ketika selesai kebaktian pendeta mendatangi pria sederhana itu dan menegur, “Minggu depan, kalau mau masuk ke gereja ini lagi, sebelum berangkat dari rumah bertanyalah kepada Tuhan pakaian seperti apa yang patut untuk perbaktian.”

            Minggu berikutnya pria itu datang lagi. Masih tetap bersepeda dan dengan pakaian masih seperti yang lalu. Sekali lagi, tidak ada yang mengacuhkan dia, dan sehabis kebaktian pendeta juga kembali menemuinya.

            “Kalau tidak salah, minggu lalu saya sudah sarankan anda supaya sebelum datang ke gereja ini bertanyalah dulu kepada Tuhan pakaian apa yang pantas untuk kebaktian,” tukas pendeta.

            “Ya, saya sudah lakukan seperti saran pak pendeta,” jawab pria itu lugu.

            “Lalu?”

            “Tuhan bilang, Dia sendiri tidak tahu sebab belum pernah masuk ke gereja ini!”

 

(Pesan moral: Bagi sebagian orang pakaian merupakan hal paling penting untuk ke gereja. Bahkan ada yang pantang masuk gereja kalau tidak memakai baju baru! Tidak jelas, apakah mereka masuk gereja untuk bertemu Tuhan atau bertemu orang-orang. Perhiasan kita bukan “secara lahiriah…dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah…yang sangat berharga di mata Allah” 1Petrus 3:3, 4.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: