Salah Mengerti

SALAH MENGERTI

 

            Pendeta yang baru ditempatkan di jemaat itu diundang oleh guru kelas anak-anak untuk diperkenalkan di depan kelas.

            “Bapak pendeta, pagi ini pelajaran kita adalah tentang Yosua,” jelas ibu guru.

            “Oh, bagus sekali. Kalau begitu saya ingin mencoba kepintaran anak-anak ini?” ujar pendeta yang langsung bertanya, “Anak-anak, siapa yang sudah merubuhkan tembok Yeriko?”

            Johny buru-buru mengangkat tangan lalu berkata, “Bukan saya, pak pendeta.”

            Sambil menahan tertawa pendeta itu berkata kepada Johny, “Coba kamu ingat-ingat. Siapa yang merubuhkan tembok Yeriko?”

            Ibu guru langsung memotong, “Pak pendeta, Johny itu anak baik dan jujur. Kalau dia bilang bukan dia yang lakukan, saya yakin itu memang bukan dia.”

            Merasa ada sesuatu yang tidak beres, pendeta pamit keluar mencari pemimpin Sekolah Sabat Anak-anak lalu menceritakan apa yang baru dialaminya.

            Pemimpin SS Anak-anak tampak gelisah lalu menjelaskan, “Pak pendeta, memang Johny itu pernah bikin masalah. Mungkin saya perlu bicara dengan dia dan gurunya. Kalau perlu dengan orangtuanya.”

            Lho? Pendeta yang menjadi bertambah bingung segera mendatangi pemimpin umum Sekolah Sabat yang kebetulan sedang berbicara dengan pemimpin diakon. Kepada mereka pendeta menceritakan kejadian tadi, termasuk reaksi dari guru kelas anak-anak dan pemimpin Sekolah Sabat Anak-anak.

            Mendengar cerita itu, sambil mengusap-usap dagunya, pemimpin umum Sekolah Sabat mengusulkan, “Begini saja, pendeta. Kita bicarakan persoalan ini dalam rapat majelis. Saya bersedia menggunakan uang dari kas Departemen Sekolah Sabat untuk memperbaiki tembok yang rubuh itu.”

            “Ya betul, pendeta. Saya kira itu tepat, daripada timbul masalah di kemudian hari!” timpal pemimpin diakon.

            “Ya Tuhan,” ujar pendeta sambil menggaruk-garuk kepala dan berlalu…

 

(Pesan moral: Antara salah dengar dengan salah mengerti batasnya amat tipis; begitu juga dengan kenaifan dan kebodohan. Keduanya sama-sama bisa menyebabkan “salah wesel” dan membuat situasi jadi runyam. Namun, sementara kebodohan dapat menyebabkan orang tersesat [Amsal 5:23], pengetahuan manusia juga adalah kebodohan bagi Allah [1Korintus 3:19]. Kecerdasan dan pengetahuan itu perlu, tetapi jangan terlampau mendewakannya. Hanya hikmat Allah yang patut diandalkan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: