PELUPA

PELUPA

 

            Seorang pendeta yang memang sangat pelupa menghadiri sebuah kebaktian di mana seorang pengkhotbah kesohor menyampaikan khotbahnya yang sarat dengan humor menarik.

            “Masa yang paling manis dan berkesan dalam hidup saya ialah ketika selama kurang-lebih sepuluh tahun saya berada dalam pelukan seorang wanita yang bukan istri saya,” kata pengkhotbah senior itu. “Dan wanita itu adalah ibu saya sendiri…”

            Gerrrrrr. Hadirin tergelak, termasuk pendeta itu. Begitu terkesannya sehingga dia berniat hendak menyontek khotbah dan sekaligus humor itu untuk disampaikan kepada jemaatnya.

            Maka pada minggu berikutnya, sewaktu berkhotbah di hadapan jemaatnya, pendeta itupun tak lupa mengutip humor tersebut.

“Masa yang paling manis dan berkesan dalam hidup saya ialah ketika selama kurang-lebih sepuluh tahun berada dalam pelukan seorang wanita yang bukan istri saya…” Para jemaatpun terkesima, dan suasana menjadi mencekam.

            Saking pelupanya, pendeta itu tidak tahu lagi bagaimana kelanjutannya. Maka, setelah hening sejenak, diapun meneruskan, “Tetapi saya lupa siapa wanita itu…”

 

(Pesan moral: Humor memang bisa menjadi “bumbu penyedap” dalam suatu khotbah, asalkan pada tempatnya dan jangan berlebihan sehingga orang lebih terkesan pada humornya ketimbang pada isi khotbahnya. Kekuatan sebuah humor selain terdapat pada “elemen of surprise” juga tentu pada “moral lesson” yang dikandungnya. Camkanlah Yeremia 15:17,19.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: