MONUMEN KETIDAKSETIAAN

MONUMEN KETIDAKSETIAAN

 

            Ketika mereka menikah 25 tahun lalu, Doni berpesan kepada istrinya, Dona,  agar tidak pernah membuka peti yang disimpannya di bawah tempat tidur mereka. “Aku percaya pada kejujuranmu. Biarpun peti itu tidak dikunci tapi aku ingin kamu tidak pernah membukanya.”

            “Demi cintaku, mas, tidak akan,” jawab Dona mantap.

            Tapi sehabis merayakan peringatan Kawin Perak malam itu, tiba-tiba Dona ingin sekali untuk melihat apa isi peti itu. Maka, ketika suaminya pergi ke kantor, Dona akhirnya membuka peti misterius itu. Ternyata isinya cuma 2 botol kosong bekas minuman soda dan uang sejumlah Rp. 392.575,-

            Seharian itu Dona gelisah. Menjelang tidur pada malam itu Dona memberanikan diri untuk mengaku kepada suaminya.

            “Mas, aku sudah berbuat hal yang memalukan,” kata Dona lirih. “Janji yang selama seperempat abad aku pertahankan, hari ini aku melanggarnya.”

            Doni menatap tajam mata istrinya. “Kamu sudah membuka peti itu ya?”

            “Maafkan aku, mas. Aku janji tidak akan mengulanginya,” ujar Dona sambil menyandarkan kepala ke dada suaminya yang menyambutnya dengan pelukan .

            Sembari menghela nafas dalam-dalam, Doni berkata, “Ya, sudahlah. Mungkin sekarang waktunya kamu harus mengetahui apa yang selama ini aku rahasiakan.”

            Dona melepaskan diri dari rangkulan suaminya, lalu balas menatap wajah Doni. “Rahasia apa toh mas?”

            “Botol-botol itu menandakan berapa kali aku berbuat serong,” suara Doni tak kalah lirih. “Aku juga mau minta maaf, dan berjanji  tidak akan mengulanginya lagi.”

            Dona memejamkan mata kuat-kuat dan menahan tangis yang hendak meledak. Tapi dia berusaha menguatkan hatinya. Dalam hati dia membatin, bagaimanapun suaminya sudah mengaku dengan jujur. Pikirnya, dua kali berbuat serong sesuai jumlah botol soda dalam peti itu, rasanya tidak terlalu buruk untuk perkawinan selama 25 tahun.

            “Ya, demi anak-anak kita, mas. Meskipun pahit tapi aku bersedia memaafkan,” akhirnya Dona membuka mulut setelah beberapa saat diam terpaku. Keduanyapun kembali berangkulan.

            “Tapi mas, kenapa uangnya disimpan dalam peti itu?” tanya Dona tak lama kemudian.

            “Begini,” sahut Doni sembari membetulkan duduknya. “Setiap kali peti itu sudah penuh, aku menjual botol-botol soda itu ke tukang loak. Nah, uang hasil penjualannya aku simpan di situ.”

            Malam itu Dona minggat entah ke mana…

 

(Pesan moral: Kecenderungan manusia adalah berbuat dosa, dan berdosa satu kali dengan seribu kali tak ada bedanya. Upahnya sama: maut. Tetapi, selingkuh yang dilakukan berulang-ulang itu bukan lagi kecenderungan, melainkan suatu “kelainan” perilaku. Namun, sekalipun begitu, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk mengulurkan pengampunan. Bahkan, “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” Roma 5:20)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: