MEMBANGGAKAN ANAK

MEMBANGGAKAN ANAK

 

Empat orang ibu yang usianya menjelang uzur sedang mengobrol tentang anak laki-laki mereka masing-masing.

“Saya bangga lho pada anak saya,” cerita ibu pertama. “Dia jadi pejabat, dan setiap kali memberi perintah kepada anak-buahnya mereka selalu menyahut dengan sopan, ‘Ya, pak.’”

Ibu kedua tak mau kalah. “Anak saya jadi pastor di sebuah katedral, dan kalau dia mengatakan sesuatu parokinya akan menjawab dengan ‘Ya, Romo’” (Bapa).

“Anak saya sudah lama jadi warganegara Amerika dan sekarang bekerja sebagai hakim,” tutur ibu ketiga.  “Di sana kalau dia bertanya orang harus menjawab disertai ucapan, ‘Ya, Yang Mulia.’”

Setelah menunggu beberapa lama ibu keempat tidak berbagi cerita tentang anaknya, ketiga ibu yang lain secara hampir berbarengan bertanya, “Ibu tidak mempunyai putra laki-laki ya?”

“Anak bungsu saya laki-laki. Dia itu putus sekolah gara-gara salah pergaulan, dan saya tidak tahu persis apa pekerjaannya,” ujar ibu keempat tanpa gairah. “Tapi anak-buahnya juga banyak, pada berambut gondrong dan bertato. Di mana-mana dia muncul, sebelum berbicara apa-apa semua orang akan berkata, ‘Ya Tuhan!’”

 

(Pesan moral: Anak adalah permata hati ibu, begitu kata orang. Tetapi anak memerlukan pengajaran terutama dari orangtuanya sendiri, kalau perlu disertai hukuman. Sebab “tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.” Amsal 29:15.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: