Kisah Sepuluh Perintah

KISAH SEPULUH PERINTAH

 

            Konon, Sepuluh Perintah (Sepuluh Hukum) Tuhan itu baru belakangan diturunkan melalui bangsa Yahudi. Sebelumnya itu ditawarkan dulu kepada beberapa bangsa lain.

            Mula-mula malaikat datang kepada leluhur bangsa Italia. “Kalian mau Sepuluh Perintah ini diturunkan melalui keturunanmu?”

            “Apa isinya?” tanya leluhur bangsa Italia.

            “Antara lain, jangan membunuh.”

            Sorry, sebagian keturunan kami mafia. Mustahil tidak membunuh.”

            Malaikat pergi ke Cina. “Kalian mau terima Sepuluh Perintah dari Tuhan?”

            “Isinya seperti apa?”

            “Di antaranya, jangan membuat dan menyembah patung.”

            “Wah, tidak mungkin. Di negeri kami di mana-mana ada patung.” Leluhur Cina menampik.

            Malaikat melanjutkan perjalanan ke Rusia, tapi mereka memilih untuk tetap pada doktrin ateis. Amerika dan Prancis juga langsung menolak begitu tahu ada hukum tentang larangan berzinah.

            Malaikat lalu mampir di Indonesia. “Kalian ‘kan mau jadi bangsa yang beragama, bukan bangsa sekuler.  Apakah bersedia kalau Sepuluh Perintah Tuhan diturunkan lewat kalian?”

            “Apa saja isinya?” tanya leluhur bangsa kita.

            “Antara lain, jangan mencuri, jangan berdusta.”

            Setelah merenung sejenak, “Susah itu. Keturunan kami banyak koruptor, mereka pasti melanggar kedua hukum itu sekaligus. Maaf, kami tidak bisa menerimanya.”

Malaikat hampir saja pulang kembali ke surga ketika melihat satu bangsa kecil yang sedang berkelana di padang gurun. “Sepuluh Perintah Tuhan akan diturunkan melalui kalian. Mau?”

            “Berapa harus membayar setiap perintah itu?” tanya leluhur Yahudi.

            “Gratis.”

            “Kalau begitu, berikan semuanya!”

 

(Pesan moral: Sandainya Sepuluh Perintah Tuhan itu boleh diamandemen, bagian manakah yang anda akan perjuangkan supaya diubah? Kecenderungan manusia, seperti sering terbukti, bukan hendak menyesuaikan diri dengan hukum [baca: peraturan], tetapi “merekayasa” hukum itu agar sesuai dengan keinginannya. Dan “Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.” Roma 1:24.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: