Pelajaran 9: Tuhan atas Bait Tubuh Kita

Tuhan atas Bait Tubuh Kita

(1 Korintus 6 & 10)

Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan:  Pelajaran 9

 

Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D.  Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain.  Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran.  Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Pendahuluan:  Berapa kali sudah saya dengar seseorang berkata, “Tubuhmu adalah bait Allah?” Apa artinya?  Apakah berarti saya harus jogging?  Apakah berarti kripik kentang harus enyah dari menu saya karena saya tidak bisa jadi terlalu gemuk?  Haruskah saya mengenakan sabuk pengaman waktu mengendarai mobil?  Haruskah saya hindar dari mengemudikan mobil kecil atau terbang dalam pesawat pribadi?  Umumnya orang-orang yang menggunakan frase ini berbicara tentang merokok dan minum, bukan jogging.  Apakah frase ini mengkonversikan soal kesehatan, keamanan, kebugaran dan pertarakan dari perkara praktis menjadi perkara rohani?  Mari selami pelajaran kita dan lihat apa yang sebenarnya diajarkan Alkitab tentang tubuh kita sebagai bait Allah!

 

1.      Bait:  Badaniah atau Rohaniah?

1.      Baca 1 Korintus 6:19-20.  Aspek apa dari tubuh saya yang menjadikannya sebuah “bait?” (Paul mengatakan bahwa Roh Kudus tinggal di dalam kita.)

1.      Artinya apa?  Apa seperti kehamilan? Bagaimana Roh Kudus masuk ke dalam kita? (Baca 1 Korintus 12:13.  Kita dapati bahwa kita minum Roh Kudus! Tak pelak lagi, saudara perlu perhatikan baik-baik label kandungan nutrisi! Kalau saja produsen minuman tau mengenai kemungkinan ini!)

2.      Baca 1 Yohanes 3:21-24.  Apakah kita juga diam dalam tubuh orang lain? (Mudah-mudahan tidak ada yang terganggu dengan kata-kata saya yang terdengar pandir, tapi maksudnya sangat serius.  Paulus menggunakan istilah badaniah untuk menjelaskan hal yang  nyata-nyata rohaniah dan mental belaka.  Kita tidak secara badaniah tinggal di dalam Allah dan Ia tidak secara  badaniahtinggal di dalam kita.  “Diam di dalam” merujuk kepada kehidupan yang selaras dengan kehendak Allah. Kita dibantu dalam mengetahui kehendak Allah melalui Roh Kudus-Nya.)

3.      Mari kembali ke 1 Korintus 6:19-20 dan fokus pada ayat 20.  Apa alasan bagi tubuh kita dipenuhi oleh Roh Kudus? (Kita telah dibeli dengan sebuah harga – Yesus mati gantikan kita.  Allah memiliki bangunan bait kita.)

1.      Apakah ini perkara rohaniah atau perkara badaniah? (Kematian Yesus sudah tentu bersifat badaniah.  Tatkala Paulus membicarakan tubuh kita, ia tentulah bicara baik badaniah maupun rohaniah.  Namun, penekanannya ada pada rohaniah.)

2.      Konteks Bait

1.      Kita tidak bisa sepenuhnya mengerti pembicaraan Paul ihwal tubuh kita sebagai bait kecuali kita mempelajari konteks dari perkataannya.  Mari kita lakukan hal itu sekarang.  Baca 1 Korintus 6:12-13. Dalam Alkitab The New International Version – NIV, frase “Segala sesuatu halal bagiku” dituliskan di antara tanda kutip.  Bahasa Gerikanya tidak memiliki tanda kutip.  Apa yang para penterjemah NIV sedang kemukakan kepada kita? (Komentar Eksposisi Alkitab – The Bible Exposition Commentary (di antara komentar lainnya) menjelaskan bahwa “Segala sesuatu halal bagiku” adalah ujaran yang lazim di Korintus – kota tempat tinggal orang-orang yang  disurati Paulus.  Paulus sementara mengulangi sebuah ujaran yang lazim, bukan apa yang ia percayai.)

1.      Apa jawaban Paulus terhadap “Segala sesuatu halal bagiku?” (Menariknya, Paulus tidak mengatakan “Itu bohong.”  Gantinya, ia menambahkan bahwa bukan semuanya bermanfaat bagi kita dan beberapa perkara bisa berujung menjadi tuan kita.)

2.      Frase apa lagi yang dicantumkan di antara tanda kurung di dalam 1 Korintus 6:12-13? (NIV mencantumkan “Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan” di antara tanda kutip.)

1.      Artinya apa? (Artinya bahwa perut kita didesain untuk makan. Semacam (tapi berlawanan) dengan ungkapan logika, “Jika Allah bermaksud agar kita merokok, Ia akan menciptakan kita dengan cerobong asap.”)

2.      Poin apa yang dibuat oleh ungkapan bangsa Korintus ini?  (The Bible Exposition Commentary menerangkan bahwa orang-orang Korintus sedang membahas sex. Sebagaimana alamiahnya makan, mereka berargumen bahwa tubuh kita diciptakan untuk berhubungan sex – dan karenanya adalah kehendak Allah bahwa kita memuaskan dorongan ini dan menggunakan tubuh kita sebagaimana Allah telah mendesainnya.)

1.      Apakah argumen ini terdengar sekarang kini?  (Betul sekali.  “Allah menciptakan saya seperti ini, jadi apa yang saya lakukan adalah apa yang Ia inginkan.”)

3.      Baca 1 Korintus 6:13-15. Apa pemikiran Paulus mengenai argumen bahwa desain tubuh kita membuktikan bahwa kita secara alamiah diciptakan untuk sex tanpa batasan? (1. Paulus mengingatkan mereka bahwa penghakiman sedang mendatangi:  Allah akan membinasakan baik perut dan makanan. 2. Penciptaan tubuh kita menunjukkan bahwa kita dimaksudkan untuk melayani Allah.  Paulus mengingatkan kita bahwa Yesus telah melepaskan kita dari dosa dan memberikan hidup kekal bagi kita.)

4.      Mari lanjutkan.  Baca 1 Korintus 6:15-17.  Topik apa yang sementara dibicarakan Paulus tatkala ia mengatakan tubuh kita adalah “anggota Kristus” dan bait? (Paulus sedang membahas percabulan.)

1.      Pusatkan pada ayat 16.  Poin historis apa yang diangkat Paulus? (Paulus mengingatkan kita (Kejadian 2:4; Matius 19:5) bahwa Allah menciptakan sex, dan Ia juga memberi kita instruksi bagaimana penggunaannya.  Sex itu unik di mana hidup direproduksi.)

1.      Tengok kembali 1 Korintus 6:14,17.  Mengapa Paulus berbicara mengenai membangkitkan Yesus (dan kita) dari kematian dan kita disatukan dengan Yesus? Apa hubungannya hidup baka dengan percabulan? (Sex adalah cara di mana manusia memberikan hidup.  Paulus mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen, Yesus telah memberi kita hidup baru.  Logikanya adalah demikian:  Mengapa saudara mau bersatu untuk hidup baru dengan pelacur, sementara saudara sudah disatukan dengan Yesus untuk hidup baka? Kedua konsep tersebut secara fundamental berseberangan.)

3.      Menyerangi Bait:  Percabulan

1.      Baca 1 Korintus 6:18-20.  Ketika Paulus mengingatkan bahwa tubuh kita adalah bait bagi Roh Kudus, apakah ia sedang membicarakan jogging, menjadi gemuk, merokok, minum atau mengenakan sabuk pengaman? (Tidak.  Paulus mengatakan bahwa “setiap dosa lain” adalah di luar tubuh.  Satu-satunya dosa melawan tubuh kita adalah percabulan.  Tinjauan kita atas konteks dari ayat-ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Paulus sedang membicarakan percabulan.)

 

1.      Saya kerap bertanya-tanya mengapa gereja begitu keras dalam soal perselingkuhan.  Kebanggaan, arogansi, keserakahan akan membuat saudara aman-aman saja di bangku gereja, tapi berselingkuhlah dan saudara akan dipecat dari gereja.  Apakah hal itu tepat?  (Ya.  Paulus menetapkan percabulan sebagai dosa kategori khusus.  Hal itu merusak proses hidup baru.  Gantinya memelihara proses ini untuk “istri (suami) masa mudamu,” kita membaginya dengan seorang asing.  Hal ini terutama sekali melukai hati Allah karena Ia memberi kita hidup baru dan Ia “diam” di dalam kita.)

2.      Jika saudara adalah Setan, dan saudara tahu bahwa percabulan amat sangat melukai Allah, godaan apa yang akan saudara tekankan?

1.      Sementara saudara memandang dunia sekeliling, seberapa kuat desakan amoralitas?

3.      Perhatikan bagaimana 1 Korintus 6:18 diawali.  Dikatakan “jauhkahlah” dari percabulan.  Bagaimana, sebagai hal praktis, akan saudara terapkan nasehat tersebut dalam hidup saudara?

4.      Karena saya meyakini “kebenaran dalam ajaran,” ada dua poin tentang 1 Korintus 6:18 yang saya perlu bagikan.  Bahasa Gerika dengan tepat telah menterjemahkan “Setiap dosa yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya” berlawanan dengan “setiap dosa lain.”  Bagaimanapun, saya pikir terjemahan yang kita gunakan dengan tepat telah mencantumkan kata “lain,”  karena itulah makna yang Paulus tuliskan.  Kedua, sebagian kecil komentator meyakini bahwa awal dari ayat ini adalah suatu contoh lain dari Paulus yang mengutip ungkapan populer bangsa Korintus.  Jika betul bahwa “setiap dosa [lain] yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya” adalah sebuah ujaran bangsa Korintus, dan bukan pandangan Paulus, maka hal itu akan sungguh mendiskonto kesimpulan kita bahwa keamanan dan kesehatan adalah perkara praktis, bukan soal moral.  Saya menyinggung pandangan minoritas ini sekedar agar pembaca dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang cukup.  Menurut hemat saya pandangan minoritas tersebut salah.

2.      Baca Matius 15:16-20.  Yesus mengatakan bahwa percabulan timbul dari hati – dan sepertinya membandingkannya dengan apa yang masuk ke dalam tubuh.  Apakah ada konflik antara ajaran Yesus dan ajaran Paulus? (Tidak.  Yesus sepakat dengan Paulus bahwa dosa, secara umum, bukanlah tentang tubuh.  Yesus mengatakan bahwa sumber dari percabulan adalah pikiran kita.  Paulus menambahkan bahwa itu adalah satu-satunya dosa melawan tubuh kita.)

3.      Kali berikut jika seseorang mengingatkan saudara bahwa tubuh saudara adalah “bait Allah” ketika ia membicarakan diet, kesehatan, kebugaran, sabuk pengaman, etc., apa yang akan saudara katakan?  (Mereka perlu lebih banyak belajar Alkitab! (Kita semua juga, bukan?) Diet, kesehatan, kebugaran, sabuk pengaman adalah buah pikiran yang hebat, tapi hal-hal tersebut bukanlah masalah “bait” yang dibahas Paulus dalam 1 Korintus 6

4.      Bait Orang Lain

1.      Dalam 1 Korintus 10 Paulus menuliskan bahwa orang-orang Korintus harus menetapkan hati mereka pada perkara-perkara yang benar.  Satu hal yang harus mereka hindari adalah penyembahan berhala.  Mari kita ambil nasehat Paulus dengan membaca 1 Korintus 10:23-24.  Paulus kembali mengulangi pernyataan lazim bangsa Korintus ini, tapi ia menambahkan elemen baru pada apa yang ia ajarkan dalam 1 Korintus 6.  Elemen baru apakah ini?  (Bahwa dalam memutuskan perbuatan apa yang berterima kepada kita, kita perlu memikirkan dampaknya bagi sesama orang Kristen.)

2.      Baca 1 Korintus 10:25-27.  Paulus berkata bahwa orang-orang Korintus tidak perlu khawatir apakah daging yang mereka beli atau disajikan kepada mereka ketika bertamu sudah dipersembahkan kepada berhala.  Mengapa? (Paulus sebelumnya telah mengatakan bahwa berhala itu nonsens 1 Korintus 10:19-20), dan karenanya kita tidak perlu khawatir daging tersebut telah dipersembahkan sebagai korban bagi berhala.  Allahlah pemilik semua daging – bukannya berhala.)

3.      Baca 1 Korintus 10:28-29.  Hati nurani siapa yang dilindungi?  (Hati nurani orang lain.)

1.      Prinsip apa yang Paulus ajarkan kepada kita? (Bahwa meskipun kita tahu bahwa tindakan tertentu tidaklah dosa, kita harus menghindar diri dari melakukannya di hadapan orang lain yang berpikir bahwa tindakan tersebut adalah dosa.)

4.      Baca 1 Korintus 10:31-33.  Menurut Paulus, apa hubungannya makan dan minum dengan dosa? (Ia mengemukakan bahwa apabila kita memutuskan apa yang harus kita makan dan minum, faktor utamanya adalah apa dampaknya bagi sesama orang Kristen.)

1.      Adakah “makan … atau … minum … untuk kemuliaan Allah” suatu ajaran tentang diet dan kesehatan? (Tidak. Itu adalah soal memberi perhatian pada pandangan sesama orang Kristen.)

5.      Sobat, Allah meminta kita untuk menjaga tubuh kita bebas dari percabulan.  Akankah saudara memutuskan untuk menjauhkan diri dari dosa ini?

5.      Penggalian Berikutnya:  Tuhan atas Pekerjaan Kita

 

Komentar bertahan »

Pelajaran 8: Tuhan atas Sumber Daya Kita

Tuhan atas Sumber Daya Kita

(Lukas 12, 1 Timotius 5)

Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan:  Pelajaran 8

 

Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D.  Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain.  Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran.  Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Pendahuluan:  Tatkala membaca judul seperti “Tuhan atas Sumber Daya Kita,”  kita berpikir:  “Oh tidak, lagi-lagi himbauan untuk memberikan lebih banyak uang.”  Setia kepada Allah bukanlah sekedar ihwal uang (meski sebenarnya merupakan bagian darinya), itu menyangkut semua karunia dan talenta kita.  Mari selami pelajaran kita dan lihat apa kata Allah soal sumber daya kita!

 

1.      Perkataan Kita

1.      Baca Lukas 12:8-9.  Menurut saudara apa artinya “mengakui” Yesus?

1.      Apa yang Yesus janji akan dilakukanNya jika kita mengakui Dia di hadapan orang lain?  (Kita mempunyai gambaran ini dalam Ibrani 8 tentang Yesus berdiri bagi kita di sorga.  Ia menjadi pengantara mewakili kita sebagaimana Imam Besar menjadi pengantara atas nama bangsa Israel pada Hari Raya Pendamaian.)

1.      Jika Yesus menjadi Pengantara mewakili kita di sorga, apa yang diajarkan tentang hal yang Ia inginkan dari kita ketika Ia berujar bahwa kita harus “mengakui” Dia di hadapan orang lain?  (Sebagian dari “tugas” kita dalam kehidupan adalah menyatakan Yesus sebagai sumber dari kuasa rohani dan sumber dari keselamatan kita.  Kita perlu mengakui apa yang Yesus telah dan sedang lakukan untuk kita.)

2.      Akankah mengakui Yesus menyangkut lebih dari perkataan kita?

1.      Jika saudara mengatakan, “ya, menyangkut lebih dari perkataan,”  hal apa lagi yang terkait?

2.      Akankah hal itu menyangkut tidak hanya apa yang kita katakan, tapi bagaimana kita mengatakannya?

2.      Kepunyaan Kita

1.      Baca Lukas 12:15.  Sejauh mana pernyataan itu berlaku dalam hidup saudara?

2.      Baca Lukas 12:16.  Apa yang menjadi sumber dari panen yang bagus?  (Alkitab menunjuk tanah sebagai sumbernya, bukannya si petani.)

1.      Apa sumber dari uang saudara?  Sejauh mana “salah saudara” sehingga saudara memiliki uang?  (Sebuah buku menarik, The Bell Curve, mengungkapkankan bahwa pekerjaan saudara adalah indikator dari kepintaran saudara.  Pekerjaan-pekerjaan yang memberi pendapatan tinggi umumnya dipegang oleh orang-orang yang pintar.)

1.      Kendali apa yang kita punyai atas kepintaran kita?  (Tak ada, bila yang dibicarakan adalah kepintaran yang diwariskan.  Seperti petani dalam perumpamaan ini, banyak dari kekayaan keluarga tidak berada dalam kendali kita.)

3.      Baca Lukas 12:17-19.  Apa yang salah dengan rencana petani ini?

1.      Salahkah membangun lumbung yang lebih besar untuk menyimpan panen yang melimpah?

2.      Salahkah memikirkan masa pensiunan kita nanti?

3.      Salahkah hidup dengan tenteram?

4.      Salahkah makan, minum dan bersuka ria?

4.      Baca Lukas 12:20.  Apakah petani ini bodoh karena menyiapkan hari esok namun berakhir dengan meninggal pada malam itu?

1.      Apa yang menggusarkan Allah di sini?  Atau, adakah Allah sekedar mengatakan bahwa hidup itu tak dapat ditebak?

5.      Baca Lukas 12:21.  Apa saran saudara yang seharusnya dilakukan oleh petani ini untuk menjadi kaya di hadapan Allah?  (Kesalahan dari petani ini adalah memikirkan dirinya sendiri ketika ia memikirkan apa yang akan dilakukannya dengan harta miliknya.  Kematian petani ini menunjukkan betapa sia-sianya harta milik.)

6.      Dalam Lukas 12:22-28, Yesus mengajarkan bahwa Allah memelihara kita jadi kita tidak perlu cemas akan hari esok.  Allah akan memelihara kita.  Baca Lukas 12:29-30.  Apa artinya “jangan mempersoalkan” apa yang akan kita makan atau minum?

7.      Baca Lukas 12:30-31.  Apakah kita dijanjikan untuk memperoleh kekayaan materi?

1.      Jika demikian, apakah ini berlaku hanya di surga? (Sepertinya memiliki kecukupan di dunia juga dijanjikan.)

8.      Baca Lukas 12:32-34.  Apakah Yesus mengatakan agar hari ini kita (artinya saudara) menjual harta milik kita dan memberikannya kepada orang miskin?

1.      Akankah kita lantas jadi miskin?

2.      Baca Kisah 2:44-45.  Adakah gereja mula-mula mengikuti nasehat Yesus?

1.      Apakah umat Kristen mula-mula menjual segala kepunyaan mereka?

9.      Baca Kisah 2:46.  Apa yang ayat ini katakan tentang sejauh mana mereka menjual segala kepunyaan mereka?  (Kepunyaan utama mereka, rumah mereka, tidak dijual.  Tidak tampak oleh saya bahwa Yesus mengatakan agar kita menjual segala yang kita punyai.  Ia memberitahu kita agar rela menjual kepunyaan kita untuk mempercepat kerajaanNya.)

1.      Buku Word Pictures in the New Testament  [Gambaran Kata dalam Perjanjian Baru], mengarahkan perhatian kita kepada masa depan dari umat Kristen di Yerusalem ini yang hidup berkomuni.  Baca Roma 15:25-26.  Sepertinya para orang kudus di Yerusalem memiskinkan diri untuk mana Paulus senantiasa memintakan dukungan dari umat Kristen non-Yahudi.

10.  Akan sangat menolong jika membaca keseluruhan pasal dari 2 Korintus 9.  Latar belakangnya adalah sebuah permintaan lagi untuk menolong orang-orang kudus yang miskin di Yerusalen.  Mari fokus pada 2 Korintus 9:6-9.  Apa kewajiban kita untuk menjual kepunyaan kita menurut Paulus?  (Allah tidak memaksa kita untuk menjual barang milik kita.  Rupa-rupanya Paulus berkata bahwa jika hati kita selaras dengan kehendak Allah, kita akan sedia memberi untuk mempercepat kerajaanNya.  Hasil dari sikap memberi ini adalah bertambahnya berkat-berkat bagi kita.)

11.  Surat Paulus kepada Timotius memberinya nasehat praktis dalam men-supervisi jemaat di Epesus.  Mari kita baca nasehat Paulus soal kewajiban orang Kristen terhadap janda-janda miskin.  Baca 1 Timotius 5:3-4 dan 1 Timotius 5:7-8.  Apa barisan pertama dari dukungan bagi orang tua yang miskin?  (Keluarga langsung.)

12.  Baca 1 Timotius 5:9-11.  Prinsip apa yang kita dapati di sini ihwal memberi uang kita kepada orang miskin?  (Paulus nampaknya mengajarkan bawa memberikan uang non-darurat kepada orang miskin, sekedar karena mereka miskin, adalah salah.  Gantinya sekedar menyerahkan uang, kita perlu memikirkan kehidupan orang tersebut.  Dalam 1 Timotius 5:11-15 Paulus menasehatkan kita untuk memikirkan dampak dari dukungan kita bagi kehidupan rohani dari orang yang kita tolong.)

13.  Baca Imamat 19:9-10.  Apa yang ayat ini ajarkan kepada pemilik ladang?  (Pemilik hasil ladang berhak atas yang terbaik dari yang ditanamnya.  Namun, ia tidak berhak sampai butir terakhir.  Dari keberlimpahannya, ia perlu meninggalkan sedikit untuk orang miskin dan orang asing.)

1.      Bagi mereka yang mengetahui sedikit mengenai bertani, jenis tanaman apa yang tumbuh di pinggir ladang?  (Di hari-hari saya sebagai anak lelaki yang senang memetik buah beri, saya perhatikan bahwa bagian pinggir ladang kurang produktif adanya.)

1.      Apakah ada prinsip Alkitabiah yang dapat ditarik dari fakta tersebut?

2.      Prinsip apa yang diajarkan dalam Imamat 19:9-10 soal menolong orang miskin? (Orang miskin dan orang asing perlu bekerja.  Bukan bekerja untuk menanam atau memanen, tapi mereka harus bekerja untuk mengumpulkan sisa.  Sang pemilik tidak disuruh untuk menuai panen yang tersisa, menaruhnya dalam keranjang, dan mengirimkan keranjang-keranjang itu ke rumah orang miskin.)

14.  Baca Imamat 27:30.  Apa lagi yang Allah tuntut atas kepunyaan kita?  (Allah menghendaki sepersepuluh dari pendapatan kita.)

1.      Baca Bilangan 18:21.  Apa maksud persepuluhan?  (Untuk menyokong mereka yang berada pekerjaan pelayanan.)

15.  Baca Ulangan 26:12.  Sistem persepuluhan dalam kitab Bilangan dan Ulangan mempunyai kompleksitas yang belum saya pahami.  Beberapa komentator menganjurkan ini sebagai persepuluhan “kedua”, dan bukan persepuluhan tahunan yang disebutkan di atas.  Alasan saya untuk menyelidiki ayat ini adalah untuk menentukan apa yang ayat ini ajarkan kepada kita soal hubungan kita dengan orang miskin.  Pelajaran tambahan apa yang kita pelajari di sini?  (Ingat pokok sebelum ini soal orang miskin mempunyai kewajiban untuk bekerja tatkala mengumpulkan sedikit dari ladang sang petani?  Di sini kita temukan instruksi untuk memberikan kepada orang miskin agar mereka memiliki cukup untuk dimakan.)

3.      Waktu Kita

1.      Baca Lukas 12:35-37.  Sumber daya apa yang sedang Yesus bicarakan di sini? (Waktu kita.)

2.      Baca Lukas 12:42-46.  Bagaimana seharusnya kita menggunakan waktu kita menurut anjuran Yesus?  (Dengan produktif.) 

3.      Baca 1 Petrus 4:10-11.  Sumber daya apa lagi, selain perkataan, uang dan waktu yang kita miliki?  Apa kewajiban kita berkenaan dengan sumber daya lain ini?

4.      Sobat, sudahkah engkau menjadikan Allah Tuhan atas sumber dayamu?  Maukah engkau menjadikanNya Tuhan hari ini?

4.      Penggalian Berikutnya:  Tuhan atas Bait Tubuh Kita.

Komentar bertahan »

Pelajaran 7: Tuhan atas Hubungan Kita

Tuhan atas Hubungan Kita

(2 Petrus 1, Epesus 5 & 6)

Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan: Pelajaran 7

 

Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Pendahuluan: Berapa banyak penyesalan dalam hidup saudara bertalian dengan hubungan yang retak? Berapa banyak sukacita dalam hidup saudara berasal dari hubungan baik? Minggu ini kita mempelajari bahwa memiliki hubungan baik dengan orang lain berasal dari pertumbuhan rohani. Sementara kita bertumbuh secara rohani, kita harus membuat lebih sedikit kesalahan dalam hubungan kita dengan orang lain. Mari terjun ke dalam pelajaran kita!

 

1.      Membangun Hubungan Kita

1.      Baca 2 Petrus 1:1-2. Petrus mengharapkan karunia dan damai bagi mereka yang ia surati. Menurut saudara, apa yang ia maksudkan dengan karunia dan damai? (Komentar dari Adam Clarke mengatakan bahwa ‘karunia’ adalah kemurahan Allah dan ‘damai’ adalah hasil dari kemurahan Allah yang dinyatakan dalam hidup kita lewat berkat-berkat rohani dan badani.)

 

1.      Pengaruh apa yang diberikan oleh hubungan kita dengan orang lain terhadap damai kita?

2.      Baca 2 Petrus 1:3. Apa kata Petrus tentang bagaimana kuasa ilahi sampai kepada kita? (“Oleh pengenalan kita akan Dia.”)

1.      Seberapa pentingkah setia belajar Alkitab? (Sepertinya Petrus mengatakan bahwa mempelajari Alkitab, yang menolong kita memahami Allah lebih baik, adalah saluran oleh mana kuasa ilahi sampai ke dalam hidup kita.)

3.      “Supaya olehnya,” kata Petrus, kita dapat “mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.” Apa maksud “olehnya” yang disebut Petrus? (Lihat kembali 2 Petrus 1:3. Ia sementara merujuk kepada kuasa Allah “yang mulia dan ajaib.”)

1.      Bagaimana kuasa Allah yang mulia dan ajaib menolong tingkah laku kita? (2 Petrus 1:3 mengajarkan bahwa kuasa Allah yang mulia dan ajaib “memanggil kita.” Oleh mempelajari kuasa Allah yang mulia dan ajaib kita ditarik kepada cara hidup yang lebih baik. Ini yang membawa kita kepada titik di mana kita (2 Petrus 1:4) mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan luput dari kejahatan di sekeliling kita.)

4.      Baca 2 Petrus 1:5. Sejauh ini, Petrus terdengar agak abtrak dalam ajarannya. Pokok-pokok apa yang ia berikan dalam ayat ini? (Katanya, saudara percaya Yesus? Saudara ingin luput dari kejahatan dunia? Bagus. Cobalah lakukan hal-hal yang baik dan belajar lebih jauh tentang jalah Allah.)

5.      Baca 2 Petrus 1:6. Jika saudara mengunjungi pusat kebugaran untuk melatih otot, mereka akan membawa saudara kepada berbagai peralatan latihan dan memberitahu saudara untuk menggunakan setiap alat untuk memberi manfaat pada bagian tubuh tertentu atau aspek tertentu dari kesehatan saudara. Apakah Petrus menggunakan pendekatan yang sama? (Sepertinya demikian.)

1.      Dapatkah kehidupan Kristen kita ditingkatkan dengan memusatkan pada aspek tertentu dari karakter kita – dan melakukan sedikit “latihan otot karakter?”

1.      Bagaimana hal ini bisa cocok dengan kebenaran oleh iman? (Perhatikan bahwa Petrus memulaikan daftarnya (2 Petrus 1:5) dengan iman. Sebelum sampai pada titik ini, Petrus mengatakan bahwa pengetahuan memberi kita “kuasa ilahi.” (2 Petrus 1:3). Kita mulai dengan kebenaran oleh iman, namun kemudian oleh mengenal Allah lebih baik, kita mengetahui bagian-bagian dari hidup kita yang perlu “dilatih.”)

2.      Oke. Pertama-tama saudara menggunakan peralatan latihan rohani yang membentuk penguasaan diri, lalu alat untuk ketekunan lalu alat untuk kebajikan. Praktisnya, bagaimana saudara akan melakukan hal ini? (Jika kita mempelajari 2 Petrus 1:3-5, Petrus menekankan pengenalan akan Allah dan janji-janji Allah yang akan menolong kita untuk “mengambil bagian dalam kodrat ilahi.” Belajar Alkitab dan Roh Kudus membuat kita siaga terhadap masalah-masalah dalam hidup kita dalam bidang pengendalian diri, ketekunan dan kebajikan. Lalu kita bersandar pada janji Allah untuk membantu kita “menambahkan” kualitas-kualitas ini pada kehidupan kita.)

6.      Baca 2 Petrus 1:7. Hal-hal terakhir apa yang perlu ditambahkan pada kehidupan Kristen kita? (Kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang.)

1.      Apa pengaruh kasih akan saudara-saudara terhadap hubungan baik? (Hal itu harus menjadi kunci kepada hubungan baik.)

2.      Pelajaran kita minggu ini adalah tentang menjadikan Allah sebagai Tuhan atas hubungan kita. Apakah Petrus mengatakan bahwa merupakan jalan panjang untuk memiliki hubungan Kristen yang benar dengan orang lain? Apa diperlukan beberapa ciri pembawaan? (Ya, saya pikir demikian.)

1.      Jika saudara memahami Petrus dengan benar, mengapa hubungan yang baik (“kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang”) berada pada akhir daftar? (Sebagai contoh, penguasaan diri adalah hal penting bagi memiliki hubungan yang baik dengan orang lain. Melihat dan mengerjakan berbagai aspek dari karakter kita ini seharusnya menjadikan kita lebih toleran dan mengasihi mereka yang belum “melihat terang” atas ketekunan dan kesalehan.)

7.      Baca 2 Petrus 1:8. Apakah saudara sedang putus asa? Akankah kita sanggup memiliki hubungan yang tepat dengan orang lain hanya jika kita sudah dewasa dalam kekristenan? (Jalan memang panjang, tapi kita tidak perlu mengatakan “Saya tidak bisa memiliki hubungan yang baik karena saya belum dewasa dalam kekristenan.” Meskipun Petrus berkata kapada kita untuk “menambahkan” (2 Petrus 1:5) tiap-tiap kualitas ini kepada kualitas yang mendahuluinya, 2 Petrus 1:8 menunjuk kepada pemilikan tiap-tiap kualitas ini “dalam menambahkan ukuran.” Kita tidak hanya harus bermitra dengan Roh Kudus untuk menambahkan ciri pembawaan yang kurang pada kita, kita juga harus berupaya untuk membangun seluruh ciri ini sekaligus. Kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang haruslah menjadi tujuan sejak hari pertama. Dalam pusat kebugaran rohani kita, kita harus melatih semua “kelompok otot rohani” ini.)

2.      Hubungan Perkawinan

1.      Baca Kejadian 2:24. Apa makna dari seorang “laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya?”

1.      Apa ini hanya berlaku untuk laki-laki? Haruskah perempuan juga meninggalkan ayah dan ibunya? (Hasilnya adalah “satu daging,” karenanya secara logis, perempuan juga harus meninggalkan orang tuanya.)

2.      Adakah “meninggalkan,” merujuk kepada jarak geografis, hubungan atau keduanya? (Perkawinan tidaklah seperti sepak bola atau gulat beregu. Itu bukanlah olah raga beregu. Laki-laki dan perempuan yang baru menikah haruslah hidup sendiri dan merekonsiliasi perbedaan-perbedaan mereka tanpa “bantuan” dari “regu” keluarga. Jika problema-problema dihadapi oleh pasangan tersebut “satu lawan satu” kedua mereka akan termotifasi untuk berkompromi. Tapi, jika “mama” atau “papa” bergabung dalam perselisihan di sisi “anak” mereka, sang anak tidak akan memiliki alasan untuk berkompromi dan pasangannya (yang sekarang kalah suara) akan menjadi getir. Kasihlah orang tuamu, tapi singkirkan mereka dari perselisihanmu.)

2.      Baca Epesus 5:28. Apa nasihat ini hanya untuk para lelaki? Apa nasihat ini hanya untuk perkawinan? (“Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri” adalah satu dari wawasan ilahi paling penting dalam Alkitab. Ini adalah jenis pengetahuan yang kata Petrus memberi kita kuasa ilahi. Menunjukkan kebajikan dan kasih haruslah dimulaikan dengan pasangan saudara, dilanjutkan dengan keluarga dan meluas kepada orang-orang di sekitar saudara. Jika saudara kasar dan mementingkan diri terhadap pasangan saudara, saudara akan mengalami hal yang sama. Jika saudara baik dan kasih terhadap pasangan saudara, saudara akan mengalami hal yang sama.)

3.      Hubungan Keluarga

1.      Baca Epesus 6:1-3. Apakah ini sebuah instruksi untuk patuh pada semua orang tua? (“Orang tua” di sini memiliki penyebut penting: “di dalam Tuhan.” Ini mengasumsikan kemungkinan adanya orang tua yang tidak saleh dan anak-anak yang saleh. Dalam situasi ini, jika orang tua memberikan perintah yang bertentangan dengan perintah Tuhan, penurutan tidak dibutuhkan.)

1.      Mengapa anak-anak penurut akan lebih panjang umur dan mempunyai kehidupan yang lebih baik dari pada anak-anak yang tidak menurut? (Orang tua yang dijelaskan di sini memiliki dua keuntungan penting dalam hidup. Pertama, mereka memiliki pengertian tentang kehendak Allah. Kedua, mereka memperoleh manfaat dari pengalaman. Karena orang yang saleh mengasihi anak-anaknya, mereka akan memberi anak-anaknya arahan yang dimaksudkan untuk menjadikan kehidupan anak-anaknya lebih baik.

1.      Sudahkan saudara melihat kebenaran dari ayat ini dijalankan dalam kehidupan orang lain? (Saya senantiasa melihat hal ini. Anak-anak penurut memiliki kehidupan yang lebih baik dan tidak banyak tekanan.)

2.      Baca Epesus 6:4. Kewajiban apa yang diletakkan di atas orang tua? (Mengajar dan menjadi teladan kehendak Allah.)

1.      Bagaimana orang tua yang saleh membuat gusar anak-anaknya? (Oleh melangkah melampaui kehendak Allah. Ulangan 4:2 adalah sebuah contoh di mana Allah memberitahu pengikut-pengikutnya untuk tidak menambahi atau mengurangi perintah Allah. Orang tua perlu mengajarkan seluruh instruksi Allah kepada anak-anaknya, tapi jangan coba-coba menjadikan keinginan pribadi sebagai tuntutan Allah.)

4.      Hubungan Masyarakat

1.      Baca Ulangan 5:21 dan Ulangan 23:25. Apa yang ayat-ayat ini ajarkan soal hak milik pribadi di dalam masyarakat?

2.      Baca Kisah 2:41-45. Bagaimana orang Kristen mula-mula memperlakukan milik pribadi?

 

1.      Adakah garis yang bisa ditarik antara ayat2 dalam buku Ulangan dan tindakan yang dicatat dalam buku Kisah? (Orang miskin tidak memiliki klaim pribadi atas kepunyaan orang kaya. Namun, hati yang bertobat ‘tidak erat’ menggenggam harta milik.)

  1.  
    1. Sobat, kita telah pelajari bahwa jika saudara ingin meningkatkan hubungan dengan orang lain, saudara perlu meningkatkan pengenalan dan hubungan dengan Allah. Sediakah saudara mengikat diri untuk belajar firman Allah tiap hari?

  1. Penggalian Berikutnya: Tuhan atas Sumber Daya Kita.

Komentar bertahan »

Pelajaran 6: Tuhan atas Doa Kita

Tuhan atas Doa Kita

(Mazmur 103, Roma 8, Yohanes 14, 1 Yohanes 5)

Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan:  Pelajaran 6

 

Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D.  Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain.  Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran.  Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Pendahuluan:  Bila saya akan membawakan sanggahan di hadapan seorang hakim,  saya ingin mengetahui beberapa hal mengenai hakim tersebut.  Bagaimana sikap sang hakim terhadap pengacara?  Bagaimana sikap sang hakim terhadap kasus-kasus sejenis?  Bagaimana kira-kira keringanan yang sang hakim akan berikan kepada klien saya?  Minggu ini pelajaran kita adalah tentang doa.  Allah yang bagaimana yang kita hampiri?  Bagaimana sikapnya terhadap kita?  Bagaimana kira-kira keringanan yang akan Ia berikan kepada kita?  Apa yang telah dijanjikanNya?  Mari kita selami dan temukan!

 

1.      Sikap Allah Terhadap Kita

1.      Baca Mazmur 103:11.  Seberapa besarkah kualitas yang mendasari sikap Allah terhadap kita? (Kasihnya besar bagi kita.)

1.      Apakah kasih Allah sama bagi semua orang?  (Mazmur mengatakan bahwa bagi orang yang takut akan Dia, Allah memiliki kasih yang khusus.)

2.      Baca Mazmur 103:13.  Semasa remaja di bangku sekolah,  saya mempunyai seorang guru Alkitab yang menceritakan tentang orang-orang yang berbalik kepada Allah sebagai hasil dari kecelakaan mobil yang mengerikan.  Hal itu membuat saya sedikit cemas soal bagaimana kira-kira kasih Allah dimainkan dalam hidup saya.  Apa yang ayat ini ajarkan kepada para orang tua tentang sikap Allah?  (Jika saudara orang tua yang mengasihi, maka saudara akan yakin bahwa Allah akan memperlakukan saudara sebagaimana saudara memperlakukan anak-anak saudara.  Ini memberi saya sejumlah besar penghiburan tatkala saya teringat pada pelajaran “kecelakaan mobil”)

3.      Baca Mazmur 103:14.  Apa bagian penting dari pengasihan Allah terhadap kita? (Ia tahu bahwa kita manusia.  Sebagian dari pengasihan kita terhadap anak-anak kita timbul karena kita tahu mereka lemah dan tanpa pengalaman.)

4.      Baca Amsal 3:11-12.  Apa yang termasuk dalam pengasihan Allah terhadap kita? (Disiplin.)

1.      Mengapa Allah mendisiplin kita?  (Ia mengasihi kita dalam cara yang sama seperti seorang “ayah kepada anak yang disayangi.”)

2.      Pernahkah saudara berpikir bahwa Allah menyayangi saudara?

3.      Apa kewajiban kita jika kita didisiplin?  (Kita perlu memiliki sikap yang benar terhadap hal itu.  Kita perlu ingat bahwa Allah lakukan hal ini karena kasihnya kepada kita.  Kita harus menarik pelajaran dan tidak marah.)

 

5.      Baca Roma 8:28.  Apa tujuan Allah bagi hidup kita?  (Bekerja untuk kebaikan kita.)

1.      Apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup kita?  (Mengasihi Allah dan menjawab “maksud”  Allah bagi hidup kita.)

6.      Baca Roma 8:31-32.  Apa yang pernah Allah lakukan yang membuat kita yakin akan kasihNya dan kerelaanNya memberi?  (Allah menyerahkan PutraNya bagi kita. Ini menerangkan berapa besar sikapNya terhadap kita.)

1.      Kita berhenti sejenak.  Baru saja kita pelajari bahwa Allah mempunyai hubungan “Bapa/anak” dengan kita.  Pikirkan apa yang terjadi dengan AnakNya sendiri.  Haruskah saya kembali mencemaskan cerita guru Alkitab saya mengenai “kecelakaan mobil berbuahkan keselamatan?

2.      Yesus Pengantara Kita

1.      Baca Roma 8:33-34.  Mengapa Yesus mati bagi kita?  (Jawaban lebih lanjut adalah bahwa Yesus membayar penalti bagi dosa kita agar kita tidak perlu membayar penalti tersebut.)

1.      Apa peran Yesus bagi kita?  (Ia Pengantara kita)

2.      Apa peran Setan? (“Setan” adalah jawaban tak tertulis atas pertanyaan “Siapakah yang akan menghukum?”)

1.      Sementara saudara memikirkan peran Allah dan peran Setan, di sisi manakah saudara ingin berada?

2.      Roma 8:34 menyatakan bahwa Yesus berada di sebelah kanan Allah dan menjadi Pengantara bagi kita.  Apa yang hal ini ajarkan kepada kita soal doa kita?  (Kita memiliki seorang wakil yang sangat hebat yang bekerja untuk kita dalam hal menghampiri Allah.)

3.      Baca Roma 8:35.  Apa yang Allah janjikan dan apa yang Allah tidak janjikan bagi mereka yang takut padaNya?  (Ia berjanji bahwa kita tidak akan dipisahkan dari kasihNya.  Namun (sayangnya) saya dapati bahwa konteks dari pernyataan ini adalah kemungkinan adanya “penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang!”)

1.      Jika kita berdoa agar penindasan, kesesakan, dst dihalau dan ternyata tidak, apakah itu berarti Yesus tidak mengasihi atau peduli lagi terhadap kita? (Roma 8:35 menyatakan bahwa memikul masalah-masalah ini tidak memisahkan kita dari kasih Yesus.)

4.      Baca Yohanes 14:12-14.  Bagaimana seharusnya kita berdoa?  (Yesus mengajar kita berdoa “dalam namaNya.”)

1.      Selama bertahun-tahun, saya kerap diminta berdoa pada acara makan siang hari Natal di organisasi tempat saya bekerja.  Karena peka terhadap rekan kerja Yahudi, saya terkadang tidak menggunakan nama Yesus dalam doa.  Apakah oke-oke saja tidak menggunakan nama Yesus dalam doa, dan hanya berdoa kepada Allah, karena kita tahu bahwa Yesus itu Allah?  (Saya bergumul dengan apa yang harus saya lakukan, tapi saya pikir ayat ini jelas bahwa saya harus selalu berdoa dalam nama Yesus.  1 Timotius 2:5 mengatakan bahwa hanya ada satu penengah di antara Allah dan manusia.)

3.      Apa Yang Didoakan

1.      Roma 8:35 menyiratkan bahwa kita bisa memikul berbagai masalah sekalipun di hadapan kasih Allah.  Yohanes 14:14 adalah sebuah janji langsung dari mulut Yesus bahwa Dia akan melakukan apapun yang kita minta dariNya.  Mengapa kita harus melalui problema jika Yesus berjanji bahwa doa kita kepadaNya akan dikabulkan?

1.      Pernahkah saudara berdoa dan berdoa dan doa saudara tidak dijawab?  Bagaimana mungkin hal ini terjadi dengan adanya janji dalam Yohanes 14:14?

2.      Mari kita teliti ayat-ayat yang menuntun kita kepada janji ini.  Baca Yohanes 14:11-13.  Apa yang Yesus sudah “perbuat”? (Mujizat-mujizat.)

1.      Apa maksud mujizat-mujizat tersebut?  (Untuk menunjukkan hubungan antara Yesus dan Allah.)

2.      Apa janji Yesus kepada kita dalam Yohanes 14:12?  (Bahwa dengan iman, kita juga dapat membuat mujizat.)

3.      Alasan apa yang Yesus berikan dalam Yohanes 14:13 untuk mengabulkan permohonan kita? (Agar Ia dapat memuliakan Allah.)

4.      Apa yang konteks ini ajarkan kepada kita soal janji Yesus untuk melakukan apa saja yang kita minta dalam doa? (Mujizat Yesus dimaksudkan membawa kemuliaan bagi Allah, menolong orang lain dan menyatakan bahwa Yesus adalah Allah.  Kebanyakan dari doa kita adalah untuk diri kita sendiri, dan barangkali lebih banyak kaitannya dengan memberi kemuliaan bagi diri kita bukannya bagi Allah.)

5.      Mengapa kita tidak mendapati banyak mujizat sekarang ini?  Jika Yesus berjanji bahwa kita dapat “melakukan bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar” daripada yang dilakukanNya, mengapa kita tidak dapat membangkitkan orang mati dan menyembuhkan orang sakit?  Mengapa kita harus bersandar pada doa dan pengobatan modern?

1.      Apa sebagian dari masalah adalah karena lalai meminta?

2.      Baca 1 Yohanes 5:14-15.  Ayat ini mengulangi frase tentang berdoa kepada Allah untuk “apa saja yang kita minta,”  tapi, memuat batasan atas apa yang kita minta.  Apa batasan itu?  (Bahwa kita meminta “menurut kehendakNya.”)

1.      Apa batasan tersebut tersirat dalam janji Yesus dalam Yohanes 14:14?  (Saya pikir iya.  Kalau tidak, alasan yang mungkin atas pertanyaan mengapa kita (saya) tidak sanggup menyembuhkan orang sakit tanpa bantuan pengobatan modern adalah: a. Kurangnya iman; b. Janji yang gagal ditepati; atau c. Janji tersebut diberikan kepada para murid, bukan kepada kita.)

3.      Baca Markus 14:35-36.  Pertimbangkan ayat-ayat ini.  Dalam Yohanes 14:14 Yesus berkata “meminta sesuatu” dalam 1 Yohanes 5:14 kita baca “meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya,” dan dalam Markus 14:36 Yesus berdoa “janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”  Akankah seorang Kristen yang dewasa selalu berdoa “Kehendak Allah, bukan kekendakku?”

1.      Akankah kedewasaan jadi soal – karena bagaimanapun Allah hanya akan melakukan kehendakNya?  (Kita baca cerita di Perjanjian Lama di mana Allah mengabulkan hal-hal yang Allah katakan bertentangan dengan kekendakNya.  Sebagai contoh, kisah 1 Samuel 8 tentang Israel yang menginginkan, dan mendapatkan, seorang raja berlawanan dengan kehendak Allah.)

4.      Ingat cerita dalam Matius 17 tentang seorang anak yang dirasuk setan?  Para murid coba mengusir setan, tapi gagal.  Yesus tiba dan sang ayah membawa si anak kepada Yesus untuk disembuhkan.  Matius 17:17-20.  Apa penjelasan atas kegagalan para murid untuk menyembuhkan?  (Terlalu sedikit iman.  Jawaban paralel terdapat dalam Markus 9:28-29.  Yesus berkata masalahnya adalah kurangnya doa.  Sepertinya para murid terlalu bersandar pada diri sendiri dan tidak cukup bersandar pada kuasa Allah.)

1.      Jika tidak cukup bersandar pada kuasa Allah adalah suatu sebab mengapa doa kita tidak dijawab, apa hubungannya hal ini dengan tunduk kepada kehendak Allah dalam doa kita?  (Jika kita memiliki iman mutlak dan percaya kepada Allah, mengapa kita berdoa untuk hal lain bukannya agar kehendakNya yang jadi?  Apapun yang Yesus janjikan kepada kita dalam Yohanes 14:14, sepertinya bodoh sekali kalau kita meminta sesuatu di luar kehendak Allah.)

5.      Sobat, Allah yang peduli kepada kita dalam cara yang sama seperti orang tua mengasihi anaknya, mengundang kita untuk datang padanya untuk pertolongan.  Akankah saudara mempercayaiNya oleh mencari tahu kehendaknya lewat doa?

4.      Penggalian Berikutnya:  Tuhan atas Hubungan Kita.

Komentar bertahan »

Pelajaran 5: Tuhan atas Perkataan Kita

Tuhan atas Perkataan Kita

(Mazmur 34, Amsal 12 & 22, Pengkhotbah 5, Yakobus 3)

Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan:  Pelajaran 5

 

Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D.  Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain.  Jawaban yang disarankan terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran.  Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Pendahuluan:  Inginkah saudara menemukan “obat mujarab bagi hidup?  Minggu ini saya berkunjung ke Disneyland dan tema disana adalah menjadi bahagia.  Apa saudara sedang mencari kehidupan yang bahagia?  Siapa sih yang tidak?  Untuk sejenak saja saya ingin saudara mengingat kembali saat-saat paling memalukan dan tidak menyenangkan dalam hidup saudara.  Apakah kata-kata saudara (atau kata-kata orang lain) punya andil dalam menciptakan keadaan memalukan yang saudara alami?  Bisa jadi.  Pelajaran kita minggu ini memandang kepada bagaimana penyampaian kata-kata kita kepada Allah meningkatkan kualitas hidup kita.  Mari kita mulai!

 

1.      Hidup yang Mengasihi

 

1.      Baca Mazmur 34:13.  Apakah saudara merupakan bagian dari “siapakah” ini?

2.      Baca Mazmur 34:14 dan 1 Petrus 3:10.  Sebagaimana yang bisa saudara lihat,  Petrus mengulangi rumusan yang Allah pertama kali inspirasikan kepada Raja Daud.

1.      Menurut saudara apa arti “menjaga lidah terhadap yang jahat”

1.      Kata penting pertama adalah “jaga.”  Apa yang terkandung dalam kata ini? (Kata ini mengandung arti bahwa kecenderungan alamiah dari lidah kita adalah berkata jahat.  Kita perlu melawan kecenderungan tersebut.)

2.      Apa kira-kira “lidah jahat” itu? (Menyerang seseorang dengan kata-kata saudara.  Menggunakan bahasa untuk mendapatkan keuntungan yang tidak adil atas orang lain.)

2.      Bagian kedua dari petunjuk ini sangat lugas:  jangan berdusta.

3.      Adakah saudara membiasakan diri untuk berhati-hati atas apa yang saudara katakan tentang orang lain?

3.      Mengapa berkata jahat dan berdusta menjadi hal pertama yang Daud dan Petrus sebutkan berkenaan dengan memperoleh hidup bahagia?  (Perkataan kita dapat menciptakan berbagai kesulitan bagi kita.)

1.      Baca 1 Petrus 3:8-9.  Mundur satu ayat membantu kita lebih mengerti alur logika Petrus.  Hubungan apa yang Petrus lihat antara perkataan kita dan kualitas hidup kita?  (Petrus melihat bahwa perkataan kita adalah suatu faktor penting dalam menciptakan keselarasan dalam hidup kita.)

2.      Apakah keselarasan senantiasa merupakan hal yang baik?  Semasa muda saya bekerja di perusahaan konstruksi.  Saya melihat beberapa atasan yang sok kuasa dan saya bertekad untuk tidak memperlakukan siapapun ‘di bawah saya’ seperti itu di tempat kerja.  Bertahun-tahun kemudian, seorang yang sok kuasa bergabung dalam perusahaan tempat saya bekerja.  Ia semena-mena terhadap karyawan ‘di bawah’-nya.  Karena tidak setuju dengan hal begini tapi saya bukan atasannya, saya  mengatakan hal-hal yang konyol dan mencemooh orang ini di hadapan karyawan yang teraniaya. Karyawan yang teraniaya menyukai hal ini dan diam-diam menyampaikannya kepada saya.  Apakah tindakan saya pantas?  (Tidak.  Dalam 1 Petrus 3:9 Petrus mengatakan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki dengan caci maki.  Seharusnya saya bicara dengannya soal masalah yang terjadi atau menunjukkan kepadanya cara yang lebih baik dalam memperlakukan para bawahan.  Nyatanya, saya berlaku serupa dengan dia.)

4.      Baca Amsal 22:11. Apa artinya “mencintai kesucian hati?”  (Seseorang dengan motif yang murni.)

1.      Apa artinya “manis bicara?” (Kata-kata yang baik dan berguna.)

2.      Mengapa seorang raja mau berteman dengan seseorang seperti ini?  Bukankah orang yang berkuasa ingin dikelilingi oleh orang berkuasa?  Mengapa seorang raja peduli soal manis bicara?  (Raja mengetahui bahwa orang ini akan baik terhadapnya.  Raja rindu untuk mempunyai orang-orang yang tidak berbahaya di sekitarnya.)

1.      Akankan nasihat ini berlaku di pekerjaan saudara?  Dapatkan saudara menggantikan kata “raja” dengan “atasanmu?” (Ya.  Jika saudara ingin untuk menjadi sahabat dari atasanmu, saudara perlu memiliki motif yang murni serta mengucapkan perkataan yang baik dan berguna.)

2.      Diluputkan oleh Lidah

1.      Baca Amsal 12:6.  Dalam cara bagaimana perkataan orang jahat dapat “menghadang darah?”  (Orang jahat akan mengucapkan hal-hal yang dimaksudkan untuk melukai orang lain.)

1.      Pernahkah saudara dapati perkataan orang benar meluputkan orang tersebut?

1.      Jika ya, bagaimana?  (Kalau apa yang saudara ucapkan di masa lalu telah membangun reputasi bagi saudara dalam hal kejujuran dan kebaikan kepada orang lain, orang akan cenderung percaya kepada saudara dan tidak mempercayai orang-orang yang coba menyakiti saudara dengan perkataan mereka.)

2.      Komentar Alkitab dari Matthew Henry menafsirkan ayat ini secara berbeda.  Ia mengemukakan bahwa orang benar dapat meluputkan orang-orang yang menjadi korban orang jahat oleh berbicara mewakili orang-orang yang menjadi korban ini.  Apakah ini bagian dari cara seorang Kristen seharusnya berbicara?

1.      Kewajiban jenis apa yang kita punyai untuk berbicara atas nama mereka yang menjadi korban dari orang jahat?

3.      Kecerdasan dan Lidah

1.      Baca Pengkhotbah 5:2.  Bagaimanakah kesusahan saudara berpengaruh pada jumlah mimpi saudara?  (Bila kita mencemaskan sesuatu, kita sering memimpikannya.  Lebih cemas, lebih banyak mimpi.)

1.      Dengan apakah perkataan orang bodoh itu dibandingkan? (Sebuah mimpi.)

2.      Persamaan apa yang dibuat antara kesusahan dan perkataan? (Jika saudara mempunyai banyak kesusahan saudara memiliki banyak mimpi.  Jika saudara memiliki banyak perkataan, saudara mungkin seorang bodoh.)

1.      Sudahkan saudara dapati bahwa hal ini benar berlaku dalam hidup saudara?  (Karena satu dan lain hal, orang bodoh senang mendengar dirinya sendiri berbicara.  Sebaiknya mereka berdiam diri agar orang lain tidak bisa memastikan bahwa mereka bodoh.)

 

2.      Baca Pengkhotbah 5:1.  Apa ayat ini merujuk kepada doa kita?  Termasuk doa di muka umum?

1.      Di gereja kita ada waktu untuk lagu pujian dan doa.  Semua orang tahu, namun sering hal ini sering molor sampai ke waktu khotbah.  Sebenarnya waktu tidak terlalu banyak disita oleh orang yang berdoa dibanding dengan orang yang memberikan ‘khotbah mini’ non-formal dihadapan jemaat.  Pelajaran apa yang kita dapati dari ayat ini bagi mereka yang senang memberikan khotbah non-formal dan dadakan?

4.      Perkataan dalam Tindakan.

1.      Baca 1 Tim 4:12.  Ketika Paulus memberikan petunjuk kepada Timotius tentang pelayanannya, kita dapati ia memberitahu Timotius untuk menjadi teladan dalam beberapa bidang.  Bidang pertama di mana ia harus menjadi contoh adalah dalam perkataannya.  Menurut saudara, mengapa Paulus pertama-tama menyebutkan perkataan?  (Penelitian menunjukkan bahwa tatkala saudara pertama bertemu seseorang, saudara membentuk kesan tentang mereka dalam beberapa menit pertama.  Menurut apa yang saya baca, waktunya adalah 90 detik pertama.  Kebanyakan dari kesan ini didasari atas apa yang kita ucapkan dan cara kita mengucapkannya.  Jika tujuan kita adalah mempengaruhi orang untuk datang kepada Kristus, kita perlu untuk waspada terhadap kesan yang kita ciptakan lewat perkataan kita.)

2.      Baca Titus 2:7-8.  Apabila saudara mengajarkan Alkitab, perkataan saudara jelas penting.  Walau kebanyakan saya tidak menuliskan kalimat humor dalam materi saya, ketika membawakan pelajaran tersebut saya menggunakan humor.  Salahkah hal ini?  Apa yang Paulus maksudkan ketika ia memberitahu kita untuk mengajar dengan perkataan yang sungguh-sungguh dan sehat?  (Sebagai ganti kata ‘sungguh-sungguh’, the Living Bible menulis “you are in dead earnest about it” Saya pikir kalimat ini menekankan makna, Firman Allah bukanlah lelucon.  Namun, humor membantu mengikat perhatian hadirin.  Apabila saudara mengemukakan pendapat alkitabiah, murid-murid saudara harus mengerti bahwa saudara sungguh-sungguh dalam mengemukakannya.)

3.      Baca Yakobus 3:3-5.  Mengapa lidah kita diperbandingkan dengan kendali atau kekang?  (Kendali atau kekang mengendalikan tubuh yang lebih besar.)

1.      Adakah Yakobus mengatakan bahwa lidah kita mempengaruhi kita?  (Sepertinya itulah tepatnya yang ia sedang utarakan.)

4.      Baca Yakobus 3:6.  Apa yang terdapat di dalam kuasa perkataan kita?  (Yakobus ajarkan bahwa perkataan kita dapat menlukai kita.)

1.      Mengapa demikian?  (Kita dipengaruhi oleh apa yang kita dengar.  Ellen White dalam bukunya Kerinduan Segala Zaman (hal 345-346) mengemukakan bahwa tatkala dicobai, kita terkadang mengatakan hal-hal yang kita tidak benar-benar yakini.  Namun demikian, sekedar menyatakan sesuatu yang tidak kita yakini menolong untuk memeteraikannya dalam pikiran kita.  Kita dapat tiba pada titik di mana kita mempercayai sesuatu yang awalnya tidak kita percayai – hanya karena kita terus-terusan menguatkannya oleh perkataan kita.)

5.      Baca Mazmur 9:2-3  Berkat-berkat apa yang datang kepada kita dari memuji Allah sebagaimana yang Daud lakukan?  (Ini adalah cara lain di mana perkataan kita membantu merubah pemikiran kita, memperkuat kasih kita terhadapa Allah.)

6.      Sobat, perkataan seorang Kristen ternyata merupakan hal yang sangat penting dalam melayani Allah.  Maukah saudara berdoa hari ini untuk menjadikan perkataan saudara tunduk kepada kehendak Allah?

  1. Penggalian Berikutnya:  Tuhan atas Doa Kita.

 

Komentar bertahan »

Pelajaran 4: Tuhan atas Keinginan Kita

Tuhan atas Keinginan Kita

(Kejadian 2 & 3; Roma 7 & 9)

Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan:  Pelajaran 4

 

 

Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs.  Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain.  Jawaban yang disarankan terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran.  Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Pendahuluan:  Di Disneyland ada wahana di mana saudara pura-puranya ada di ‘perahu’ yang sangat kecil sekali dan berlayar memasuki mulut seseorang, lalu ke paru-parunya, lalu lebih dalam dan lebih dalam lagi ke dalam sistem sirkulasi.  Itulah yang saya rasakan mengenai pelajaran ini.  Minggu lalu kita mempelajari bahwa dosa bermula dari pikiran, bukan dari apa yang kita lakukan.  Kita berlayar dari tangan ke dalam hati.  Minggu ini kita berlayar lebih dalam ke pikiran dan mempelajari keinginan-keinginan kita dan sifat alamiah kita.  Mari lompat masuk ke dalam perahu kita dan naikkan layar menuju pokok bahasan tentang keinginan!

 

1.      Penciptaan Keinginan

1.      Baca Kejadian 2:8-9.  Kita pelajari bahwa Allah menciptakan sebuah taman bagi Adam.  Apa gunanya sebuah taman?

1.      Kegunaan apa yang disebutkan dalam Kejadian 2:9? (Bahwa pepohonan di dalam taman itu sedap dipandang dan memberi makanan yang baik)

1.      Mengapa Allah mau menciptakan pepohonan yang sedap dipandang?  Apa perlunya hal tersebut?

2.      Bila dikatakan bahwa makanan yang Allah ciptakan itu “baik,” apakah saudara mengartikannya sebagai lezat? (Walau kata yang diterjemahkan “baik,” berarti baik di semua hal, saya percaya bahwa itu lezat untuk alasan sederhana bahwa Allah menciptakan dalam kita kesanggupan untuk mengecap rasa.)

2.      Baca Kejadian 2:21-24.  Menurut saudara bagaimana rupa Hawa?  Cantik atau tidak?  (Sulit dipercaya bahwa Allah yang menciptakan pepohonan (Kejadian 2:9) yang sedap dipandang lantas menciptakan seorang perempuan yang tidak sedap dipandang.)

1.      Bila disebutkan bahwa Adam dan Hawa menjadi “satu daging,” merujuk kepada hal apakah itu?  (Merujuk kepada proses mempunyai anak.)

2.      Mengapa Allah menjadikan proses terciptanya anak-anak sebuah hal yang menyenangkan?

3.      Apa kita sedang melihat sebuah pola di sini? Allah menciptakan lingkungan yang sedap dipandang, makanan yang baik untuk dimakan dan suatu metode reproduksi yang sangat menyenangkan. (Polanya adalah bahwa Allah menciptakan kesenangan bagi manusia.)

1.      Apa yang hal ini ajarkan kepada kita tentang Allah dan keinginan? (Bahwa Allah menciptakan keinginan dalam diri kita.)

1.      Akankah lebih baik jika Allah menciptakan makanan tanpa rasa dan sex tanpa kesenangan? (Kita akan jadi lebih langsing – dan manusia akan lebih sedikit jumlahnya.  Tapi kehidupan tidak akan sama.)

2.      Keinginan dan Terciptanya Dosa

1.      Baca Kejadian 3:1-3.  Mengapa sang ular meminta Hawa mengulangi apa yang Allah telah katakan?  (Tebakan saya adalah ia tidak ingin nanti ada perdebatan tentang apa yang diperbuat Hawa.  Ia tidak ingin Hawa menyatakan bahwa dirinya tersandung dan tanpa sengaja menggigit.)

2.      Baca Kejadian 3:4-5.  Apa sanggahan Setan untuk tidak mematuhi Allah? (Bahwa Allah ingin mencegah Hawa menjadi sama seperti Allah.  Bahwa jika ia makan maka ia akan mengetahui hal-hal yang diketahui Allah.)

3.      Baca Kejadian 3:6.  Mengapa Hawa makan buah tersebut? Apa karena lapar? Keinginannya akan makanan? (Klaim bahwa Hawa berdosa kerena selera makannya tidak logis bagi saya.  Ia dikelilingi oleh pepohonan dengan buah-buah yang baik.  Bukanlah makanan yang membuatnya berdosa, tapi keinginannya untuk menjadi sama dengan Allah.)

1.      Kalau saya betul bahwa bukanlah selera makan yang menyebabkan Hawa berdosa, lantas mengapa Kejadian 3:6 mengatakan bahwa buah pohon itu “baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya?” (Apa saudara pikir Setan akan mengulurkan apel yang bulukan dan berulat?  Mestilah yang mengundang.)

4.      Mari kita mundur sejenak.  Kita ketahui bahwa Allah menciptakan keinginan di dalam diri kita sebagai hal yang baik.  Bagaimana Setan menggunakan keinginan manusia dalam cerita ini? (Ia menggunakan keinginan kita untuk membuat kita tertarik pada dosa.)

1.      Apa yang hal itu ajarkan pada kita tentang dosa dan keinginan?  (Keinginan bukanlah dosa.  Keinginan adalah alat yang digunakan oleh Setan untuk menarik kita kepada dosa.  Masalahnya adalah apakah objek dari keinginan kita itu pantas.  Di sekolah hukum, saya diajar bahwa langkah paling penting untuk menyelesaikan secara benar sebuah pertikaian hukum adalah dengan menetapkan masalahnya.   Masalah dalam cerita Hawa ini bukanlah selera makan.  Kalaupun demikian, saudara dapat berkilah bahwa keinginan itu sendiri adalah dosa.  Sebaliknya, masalahnya adalah apakah seseorang dapat menggunakan rencananya sendiri untuk menjadi seperti Allah.  Itulah problema yang sama sejak kejatuhan Setan hingga kini dalam soal memperoleh kebenaran.)

3.      Lebih Dalam kedalam Keinginan

1.      Baca 1 Petrus 1:13-16.  Sejauh ini kita telah pelajari bahwa Allah menciptakan keinginan dan keinginan tersebut tidak dari sononya baik atau jahat.  Bagaimana kita mencocokkan kesimpulah tersebut dengan pernyataan Petrus tentang keinginan “jahat”? Salahkah kesimpulan kita? (Jika saudara memperhatikan keempat ayat ini  tampaknya tema keseluruhannya adalah menetapkan tujuan yang tepat.  Tetapkanlah untuk jadi suci.  Ini menyiratkan bahwa jika tujuan kita salah, keinginan kita jahat.  Jika tujuan kita tepat, keinginan kita tepat.)

1.      Apa yang hal ini nyatakan tentang hubungan antara pikiran dan keinginan? (Dalam menelusuri garis dosa, kita mulai dari tangan, ke hati ke keinginan.  Keinginan didapat oleh menggali lebih dalam daripada pemikiran.  Petrus mengemukakan bahwa pemikiran kita, tujuan yang kudus, pembelajaran yang kudus mengendalikan keinginan kita yang lebih dalam.)

2.      Baca Roma 7:7.  Masih ingat minggu lalu kita mendiskusikan bahwa perintah melarang mengingini adalah sebuah pengakuan bahwa dosa dimulaikan di otak?  Menurut saudara mengapa Paulus memilih perintah tersebut dari yang lainnya untuk digunakan sebagai sebuah ilustrasi? (Kegagalan di bagian pikiran menuntun kepada pelanggaran perintah lainnya.  Paulus mengajar kita bahwa hukum sangat penting untuk menolong kita belajar tentang dosa jenis ini.)

3.      Baca Roma 7:8.  Apa Paulus tidak sepakat dengan Petrus?  Jika kita pahami betul yang Petrus katakan bahwa pikiran kita mengendalikan keinginan kita, bagaimana bisa Paulus mengajarkan bahwa mengendalikan pikiran kita (mengetahui kita tidak boleh mengingini) membuahkan segala jenis keinginan jahat?  Apakah keinginan jahat dihasilkan oleh pemikiran baik?  Apakah keinginan jahat dihasilkan oleh pengetahuan bahwa kita harus memikirkan yang baik?

1.      Pernahkah saudara melihat tanda yang melarang saudara melakukan sesuatu yang membuat saudara berpikir untuk melakukan hal tersebut?  Contoh, saudara melihat sebuah plang di kamar mandi yang menyebutkan, “Dilarang mencoret dinding.”  Apa hal tersebut membuat saudara ingin mencoret dinding?  (Biasanya, saya tidak pernah terpikir untuk menulisi dinding kamar mandi.  Saya berada di kamar mandi untuk hal lain di luar tulis-menulis.  Namun peringatan tersebut membuat saya memikirkan apa yang orang lain telah tuliskan di dinding dan keseluruhan persoalannya.  Paulus berkata bahwa diberitahu untuk tidak melakukan suatu hal membuat kita berpikir untuk melakukan hal tersebut.)

4.      Mari kita baca lebih lanjut.  Baca Roma 7:18-21.  Di sini Paulus mengatakan ia memiliki keinginan yang baik, pemikiran yang baik, namun tindakan yang salah.  Haruskan kita memutuskan bahwa kesimpulan dari pelajaran yang telah kita telaah dengan saksama selama dua minggu ini ternyata salah?  Sadarkah kita bahwa pertempuran melawan dosa ada pada pemikiran, menempatkan perkara yang benar, memiliki tujuan yang benar, keinginan yang benar, dan tetap tertimbun dengan tindak dosa?  (Paulus menambahkan dua hal yang sangat penting pada pembahasan kita.  Walau kita mengetahui bahwa Allah menciptakan keinginan dalam diri kita dan keinginan tersebut bersifat netral, setelah Adam dan Hawa semua kita dilahirkan dengan apa yang disebut Paulus “di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik.”  Kekuatan yang dahsyat ini mendorong pikiran kita, keinginan kita dan perbuatan kita ke arah dosa.  Bandingkan 2 Petrus 2:10 untuk melihat bahwa Petrus sepakat dengan hal ini.)

1.      Masih ingat kita mulai tadi dengan ilustrasi tentang wahana di Disneyland?  Sepertinya bila menyangkut tindakan kita, kita berjalan mulai dari tangan kita, ke hati kita (pikiran) ke keinginan kita ke sifat alamiah kita yang berdosa.  Kita tiba pada sifat alamiah yang Paulus (juga kita) tidak dapat kendalikan.

2.      Apa solusi atas problema dari sifat alamiah kita yang berdosa?  (Hal penting kedua yang Paulus utarakan adalah bahwa Allah, dan hanya Allah, yang dapat melepaskan kita dari sifat alamiah kita yang berdosa.)

1.      Bagaimana kisah Hawa, kisah kejatuhan manusia, cocok dengan hal ini? (Hawa ingin menjadi seperti Allah melalui sarananya sendiri.  Allah memanggil kita untuk percaya padaNya.  Kita butuh kuasaNya untuk mengalahkan sifat alamiah kita yang berdosa.)

3.      Baca Roma 9:16.  Bagaimana tulisan Paulus cocok dengan pembahasan kita sejauh ini?  Apa ia sekarang mengatakan bahwa hubungan kita dengan Allah tidak ada urusannya dengan pemikiran dan keinginan kita?  Atau, salahkah kita dalam menyimpulkan bahwa pikiran dan keinginan kita banyak urusannya dengan hubungan kita dengan Allah? (Jawabanya, lagi-lagi, adalah “komponen Allah” atas hal-hal.  Kita harus menyadari bahwa semua upaya kita untuk menjadi baik, pun yang terpusat pada pemikiran kita, semata-mata tidak cukup tanpa kuasa Roh Allah dalam hidup kita.  Hal itu merupakan pengakuan bahwa Allah mempunyai kuasa untuk memberi pengaruh kepada pilihan kita atas pemikiran yang benar.  Mengakui posisi dari kuasa dan wewenang Allah, juga mengakui bahwa kita berhutang padaNya dalam soal keselamatan.)

4.      Saudara-saudara yang terusik dengan ayat ini dapat membaca lebih lanjut (Roma 9:17-18) dan menjadi lebih terusik.  Akankah Allah, karena kuasa yang dimilikinya, berubah-ubah dalam keputusannya akan keselamatan?  Adakah Ia berubah-ubah berkenaan dengan Firaun?  (Jika pun Ia berubah-ubah, kita tidak tidak punya alasan untuk keberatan.  Lihat Roma 9:20-21.  Namun demikian, apa yang telah disingkapkan kepada kita menunjukkan bahwa Allah tidak berubah-ubah dengan Firaun.  Jika saudara bandingkan Keluaran 8 dengan Keluaran 9, saudara akan dapati bahwa Firaun mengeraskan hatinya kepada Allah karena Allah mengeraskan hati Firaun.)

5.      Sobat, Allah menciptakan keinginan kita.  Ia meminta kita untuk mengarahkan pikiran kita kepada hal-hal yang akan membangkitkan sebuah keinginan akan hal baik.  Tapi, dalam semua aspek dari perjalanan Kekristenan kita, apakah dalam perbuatan kita atau dalam tindakan kita, kita harus ingat bahwa kita tergantung sepenuhnya pada Allah bagi keselamatan kita.  Akankah saudara meminta Allah untuk kuasa tersebut dalam hidup saudara?

4.      Penggalian Berikutnya:  Tuhan atas Perkataan Kita

 

Komentar bertahan »

Pelajaran 3: Tuhan atas Pemikiran Kita

Tuhan atas Pemikiran Kita

(Matius 5, Keluaran 20, Yakobus 1, Kolose 3, Filipi 4)

Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan:  Pelajaran 3

 

 

Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D.  Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain.  Jawaban yang disarankan terdapat di antara tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran.  Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

Pendahuluan:  Pernahkah saudara mendengar orang mengatakan, “Saya tidak ingin menjadi Kristen karena semuanya adalah setumpuk ‘jangan buat ini dan jangan buat itu?”  Orang yang berkata demikian sedikitpun tidak mengetahui  kerinduan Allah bagi kehidupan kita.  Kekristenan, sebagaimana yang akan kita pelajari minggu ini, adalah pertempuran hati, bukan fisik.  Mari selami pelajaran kita!

 

1.      Yesus Meninggikan Standar

1.      Baca Matius 5:21-22.  Di mana disebutkan “Jangan membunuh?” (Salah satu dari Sepuluh Hukum:  Keluaran 20:13.)

1.      Jika saudara memikirkan hal-hal yang seorang Kristen tidak boleh lakukan, di posisi manakah pembunuhan berada dalam daftar “jangan”?

2.      Yesus menyamakan marah dengan membunuh.  Adilkah ini?

1.      Apakah Yesus sekedar menambah panjang daftar ‘jangan’ ?

3.      Yesus tidak hanya sekedar menyebutkan marah.  Matius 5:22 bagian akhir menurut Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari menyebutkan: “…barangsiapa mengatakan kepada orang lain, ‘Tolol,’ patut dibuang ke dalam api neraka. Sepuluh Hukum melarang pembunuhan, sekarang marah dan bahkan menyebut seseorang tolol oleh Yesus diangkat ke tingkatan yang sama.

1.      Dua minggu lalu saya berkunjung ke sebuah gereja dan kelas Sekolah Sabat sedang membahas bagian dari Ucapan Bahagia ini.  Saya menggunakan PDA saya sebagai Alkitab.  Di dalamnya ada versi New Living Translation.  Saya terusik sekali ketika mendapati bahwa NLT menterjemahkan “tolol” sebagai “idiot.”  Saya jarang menyebut seseorang “tolol,” tapi sering mengidentifikasi pengemudi kendaraan lain sebagai idiot.  Pengamat burung mengidentifikasi burung.  Apa salahnya mengidentifikasi pengemudi?

2.      Baca Matius 5:27-28. Di mana disebutkan “Jangan berzinah?” (Kembali lagi, ini merupakan bagian dari Sepuluh Hukum:  Keluaran 20:14.)

1.      Apakah Yesus sedang menyamakan memandang dengan penuh berahi dengan berbuat zinah?

1.      Atau, apakah berzinah di hati adalah suatu hal yang tidak sama seriusnya dengan dosa berbuat zinah?

2.      Lagi-lagi, Yesus mengangkat pemikiran kita ke tingkatan dosa yang sangat serius.  Adilkah ini?

2.      Kejahatan Pikiran

1.      Baca Markus 7:20-23.  Apa maksud Yesus ketika mengatakan “apa yang keluar dari seseorang,” itulah yang menajiskannya? (Yesus berkata tentang pikiran – yang Yesus sebut “hati.”)

2.      Baca Yakobus 1:13-15. Apa yang sedang dibicarakan Yakobus ketika menulis apabila “keinginan itu telah dibuahi?” (Ia sedang membicarakan pikiran kita.)

1.      Jika saudara bertanya kepada Yakobus apa ia percaya bahwa pemikiran kita adalah kunci kepada kehidupan atau kematian, apa yang ia akan katakan? (Yakobus menunjuk kepada perkembangan alami dari keinginan jahat kepada kematian.)

3.      Apa yang dua ayat ini (Markus dan Yakobus) ajarkan tentang asal mula dosa dalam kehidupan kita? (Semua dosa berawal dari pikiran.)

1.      Lantas apa kesimpulan logis tentang bagaimana mengatasi pikiran kita?  Apakah oke-oke saja memikirkan sesuatu jika kita tidak melakukannya? (Tidak. Perintah Yesus kepada kita adalah bahwa pembunuhan dan perzinahan sejatinya bersumber dari pikiran kita.  Jika kita ingin menghindarkan perzinahan kita perlu menghindar diri dari memikirkannya.)

1.      Dengan latar belakang ini, mengapa menyebut seseorang “idiot” (Matius 5:22) menjadi masalah? (Saya pikir Yesus memberitahu kita bahwa bergerak menuju tindakan pembunuhan itu sebuah proses.  Menyebut seseorang ‘idiot’ mengurangi respek saudara kepada orang tersebut.  Ini menjadi langkah pertama di jalan menuju pembunuhan.  Menjadi marah kepada seseorang adalah langkah berikutnya.  Kebanyakan orang tidak menuntaskan jalan ini, tapi Yesus mengatakan agar kita menghindar diri sama sekali dari jalan itu.)

2.      Di masa muda, saya kenal seorang pendeta yang meninggalkan istri dan anak-anaknya dan lari dengan wanita lain. Ada spekulasi bahwa sesuatu tiba-tiba terlintas di benak orang baik ini dan ia berubah.  Apakah demikian menurut saudara? (Tidak.  Saya berani bertaruh bahwa ia telah mereka-reka hal ini dalam pikirannya ratusan kali sebelum dia benar-benar melakukannya.  Tindak dosa adalah hasil dari proses mental.  Hal ini tidak terjadi dalam semalam.)   

3.      Baca Keluaran 20:17.  Apa arti “mengingini istri sesamamu?” (Di sini, di akhir daftar ‘jangan’ yang ngetop itu, terdapat bukti bahwa dosa-dosa ini bermula dalam pikiran.  Jika saudara tidak mau berzinah, jangan menginginkan istri orang lain.)

  1. Penggal dan Cabut

1.      Mari kembali kepada Yesus dan Ucapan Bahagia.  Baca Matius 5:28-30.  Masuk akalkah pernyataan Yesus ini setelah apa yang telah dikatakanNya tentang pikiran dan apa yang telah kita pelajari?

1.      Jika saudara mencungkil mata kanan saudara karena saudara mempunyai kebiasaan memandang wanita dengan penuh berahi, apakah itu menunjukkan akar masalahnya?

2.      Jika saudara memotong tangan kanan saudara, karena saudara mempunyai kebiasaan mencuri, apa itu menunjuk akar masalahnya?  (Jawab bagi kedua pertanyaan ini adalah “Tidak.”  Tatkala Yesus mengajar kita untuk tidak memandang dengan penuh berahi, tidak mengata-ngatai seseorang, tidak marah, Dia mengajar kita bahwa sumber dosa ada di pikiran.  Bukan tangan atau mata saudara yang membuat saudara berdosa.  Otak saudara lah.  Saudara perlu mencabut otak saudara untuk itu!)

1.      Why, then, is Jesus giving us instructions that He knows will not work – instructions which are contrary to what He just taught? (We obviously cannot gouge out our brain – and still live for Christ. At the same time, no want wants to lose an eye or a hand. Jesus is simply telling us to consider the seriousness of this problem. If you could give up an eye or a hand and be sure of heaven, you would do it, right? Thus, Jesus is saying that if we would be willing to lose an eye or a hand for heaven, how about losing the sin? Why not take the sin problem in your life very seriously?) Lantas, mengapa Yesus memberi instruksi yang Ia tau tidak akan behasil dijalankan – instruksi yang bertentangan dengan apa yang Ia baru ajarkan? (Jelas kita tidak dapat mencabut otak kita – dan tetap hidup untuk Kristus.  Dalam pada itu, tidak seorang pun mau kehilangan mata atau tangan.  Yesus semata memberitahu kita untuk memikirkan betapa seriusnya masalah ini.  Jika saudara dapat menyerahkan mata atau tangan dan pasti masuk surga, saudara pasti akan melakukannya, kan?  Jadi, Yesus mengatakan bahwa jika kita reka kehilangan mata atau tangan demi surga, bagaimana dengan menghilangkan dosa?  Bagaimana kalau saudara menjadikan dosa dalam hidup saudara itu masalah yang sangat serius?

  1. Kelegaan Pikiran

1.      Baca Kolose 3:1-2.  Kita diminta untuk mengarahkan pikiran kita kepada “perkara-perkara yang di atas.”  Dalam praktek, bagaimana saudara hendak melaksanakan hal tersebut?

2.      Baca Kolose 3:5-8.  Berapa banyak hal dari dua daftar ini terkait dengan pikiran? (Lumayan banyak.)

1.      Apabila Kolose 3:7 mengatakan bahwa dahulu kita biasa “melakukan hal-hal itu,” apa maksudnya?

2.      How can we avoid “walking” in these mental sins? (“Walking” would refer to our usual practices. It would refer to the direction of our life. God tells us that we need to make a mental decision to avoid these things that cause our minds to be involved in impurity, lust, evil desires and greed.) Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari menulis frase  Kolose 3:7 ini dengan “…’menuruti’ keinginan-keinginan hati.” Bagaimana kita dapat hindar dari ‘menuruti’ dosa-dosa pikiran ini?  (“Menuruti” merujuk kepada tindakan yang biasa kita lakukan.  Hal ini merujuk kepada arah hidup kita.  Allah mengatakan bahwa kita perlu mengambil keputusan mental untuk menghindari hal-hal ini yang menyebabkan pikiran kita terlibat dalam kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan keserakahan.)

3.      Sekarang ini pornografi di Internet sudah menjadi bisnis besar.  Bagaimana jika saudara sedang melihat gambar seorang wanita (atau pria) yang tidak saudara kenal, tidak ada kemungkinan untuk bersentuhan (apalagi berbuat lain), dan saudara telah menetapkan dalam benak untuk tidak berpikir tentang melakukan hubungan sex dengan orang di gambar tersebut.  Apakah hal ini oke-oke saja atau dosa? (Jika saudara berkata oke-oke saja, saudara kehilangan inti dari pelajaran ini.  Dosa diawali dengan berjalan pada sisi yang salah.  Tatkala Kolose mengatakan agar kita “mematikan” “kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat” dan jangan “menuruti keinginan-keinginan itu”, ia mengajar kita bahwa kita perlu sepenuhnya menghindari hal-hal yang membangkitkan nafsu jahat.)

3.      Baca Kolose 3:12-14.  Tatkala Alkitab mengatakan agar kita “mengenakan” sikap-sikap mental ini, adakah ini merupakan jawaban praktis tentang bagaimana mengarahkan pikiran kita (Kolose 3:1) kepada “perkara-perkara yang di atas?”

1.      Bagaimana caranya saudara “mengenakan” sikap mental yang benar?

4.      Karena kita sementara melihat kepada sisi praktis dari menjadikan Allah Tuhan atas Pemikiran kita, dapatkan kita merubah pemikiran kita?  Dapatkah kita mengganti “pakaian” mental kita?

 

1.      Apa langkah yang paling menentukan dalam merubah pemikiran kita?  (Baca Filipi 4:8.  Apa yang kita letakkan dalam benak kita mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat bagi alam pikiran kita.  Jika saudara menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca Stephen King daripada membaca Alkitab, tak ragu lagi saudara telah mengenakan pakaikan mental yang salah – titik.)

2.      Apa sumber pokok untuk menjadikan Allah Tuhan atas pemikiran Kita? (Baca Titus 3:5.  Kita bertanggung jawab atas keputusan di mana kita mau mengarahkan pikiran kita kepada perkara-perkara yang di atas dan menuruti jalan Allah.  Kita membuat keputusan atas apa yang kita tempatkan dalam benak kita.  Tapi, perubahan dalam pikiran kita adalah hasil dari kuasa Roh Kudus.)

5.      Sobat, perjalanan kekristenan saudara dimulai dari pikiran saudara.  Akankah saudara memutuskan untuk menjadikan Allah Tuhan atas imaginasi saudara?

  1. Penggalian Berikutnya:  Tuhan atas Keinginan Kita

 

Komentar bertahan »

Pelajaran 2: Tuhan Atas Hal-hal yang Kita Utamakan

Tuhan Atas Hal-hal yang Kita Utamakan

(Mazmur 24, Lukas 6 & 22)

Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan: Pelajaran 2

 

Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D.  Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain.  Jawaban yang disarankan terdapat di antara tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran.  Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Pendahuluan:  Sering saya bertanya pada diri sendiri “Apa yang pertama-tama harus saya lakukan?”  Pertanyaan yang penting untuk dipikirkan, karena kalau tidak saya akan mendapati diri sedang mendahulukan hal-hal yang menarik perhatian saya, bukannya hal yang penting.  Pelajaran kita minggu ini adalah mengenai prioritas kerohanian kita.  Apa kita menjadikan hal-hal rohani sebuah prioritas, atau apa kita sekedar menangani hal-hal yang sementara menjadi perhatian kita.  Mari selami pelajaran kita dan temukan apa yang Allah perlu sampaikan soal prioritas rohani.

 

1.      Tuhan atas Segala Sesuatu

1.      Baca Mazmur 24:1.  Tuhan itu tuan atas apa?  (Segala sesuatu.)

2.      Baca Mazmur 24:2.  Mengapa Allah berhak menuntut keberkuasaan atas segala sesuatu? (Karena Ia penciptanya.  Ia menciptakan segala sesuatu, karenanya Ia pemiliknya.)

3.      Andai saudara memiliki usaha dan pelanggan terbesar dan terbaik saudara menelepon.  Akankan saudara mengesampingkan semua pekerjaan lainnya agar bisa bertransaksi dengan pelanggan terbaik saudara?  (Bodoh jika melakukan hal lainnya.)

1.      Apa yang diajarkan oleh contoh di atas tentang menjadikan Allah prioritas utama kita?  (Satu alasan untuk menjadikan Allah prioritas utama kita adalah bahwa Ia adalah “pelanggan terbaik” kita karena Ia telah memberikan segala yang kita miliki.)

4.      Baca Mazmur 24:3.  Coba geser gagasan mengenai menghampiri Allah ke dalam konteks yang lain. Andai seseorang memiliki seluruh kota saudara.   Apa yang dapat menyebabkan saudara untuk perlu menghampiri pemilik kota? (Kalau saudara menginginkan wewenang untuk melakukan sesuatu.  Kalau saudara menginginkan persetujuan.  Kalau saudara mau mengungkapkan syukur telah diijinkan tinggal di kota tersebut.)

5.      Baca Keluaran 19:5-6.  Alasan apa yang diberikan Allah bagi kita untuk menghampiriNya? (Kita akan menjadi perwakilanNya.  Kita mempunyai suatu hubungan istimewa denganNya.)

1.      Jenis perwakilan yang bagaimanakah seorang imam itu?  (Seorang yang seharusnya bertindak atas nama Allah.)

6.      Mari kembali ke Mazmur 24:3-4.  Baca ayat 4 dalam konterk ayat 3.  Allah menguasai segala sesuatu.  Ia membuka lowongan untuk perwakilan pribadi.  Kualifikasi apa yang Allah cari dari perwakilan pribadiNya?

1.      “Bersih tangan dan murni hati.”  Apa Allah mencari orang yang sudah mandi bersih untuk menjadi perwakilanNya?  (Ia mencari orang-orang yang mempunyai pikiran murni (hati) dan yang mlakukan hal yang benar (tangan).)

2.      Ayat 4 menyebutkan “…tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan;  Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari menuliskannya dengan frase “…tidak menyembah berhala”.  Apa arti tidak menyembah berhala? (Artinya tidak melayani hal selain Allah.)

1.      Dalam hidup saudara apa yang mengganggu persekutuan saudara dengan Allah?

2.      Apa yang diajarkan hal ini mengenai kerinduan Allah agar kita menjadikanNya prioritas utama kita?  (Allah mengatakan bahwa jika kita ingin mewakili otoritasNya, kita perlu menjadikanNya prioritas hidup kita.)

3.      “Tidak bersumpah palsu.”  Apakah ini sekedar merujuk kepada kejujuran?  (Kejujuran sudah pasti sebagian dari itu.  Namun, kelihatannya termasuk juga menyampaikan apa yang tidak pantas.)

4.      Bagaimana saudara meringkas tiga kualifikasi untuk menjadi perwakilan Allah?  (Allah ingin menjadi yang pertama dalam persekutuan (tidak ada berhala), Ia ingin menjadi yang pertama dalam perkara-perkara kita (tidak bersumpah palsu),  Ia ingin pikiran kita dan tindakan kita mencerminkan kehendakNya (bersih tangan dan murni hati).)

7.      Akankah saudara menjadikan Allah, rencanaNya dan kehendakNya sebuah prioritas dalam hidup saudara?

2.      Kehidupan yang Mencerminkan Prioritas Kita

1.      Baca Lukas 22:39-40.  Bagaimana dapat kita menggunakan doa untuk menuntun prioritas kita?

1.      Tatkala Yesus berkata bahwa murid-murid harus berdoa agar tidak jatuh dalam pencobaan, apa hubungannya dengan prioritas mereka?  (Pencobaan berusaha mengganti kehendak Allah bagi hidup kita dengan kehendak setan bagi hidup kita.)

2.      Baca Lukas 22:41-42.  Bagaimana Yesus menjadikan kehendak Allah sebagai prioritasNya?

1.      Pikirkan kata-kata Yesus:  Pertama, Yesus mengatakan kepada BapaNya apa diinginkanNya.  Inikah cara yang harus kita ambil dalam menyusun prioritas-prioritas dalam hidup kita?

2.      Apa “kesimpulan” Yesus? (Ia memberitahu BapaNya apa keinginanNya, tapi Yesus berkata, “Bagaimanapun keinginanKu, Aku akan melakukan kehendakMu.)

3.      Saat menyusun prioritas kita tiap hari, masuk akalkah bila kita memberitahu Allah apa yang hendak kita lakukan, berdoa supaya kita tidak dikalahkan oleh prioritas Setan, and mengakhirinya dengan mengatakan bahwa kita ingin prioritas Allah menjadi prioritas kita?

3.      Bayangkan bahwa saudara baru saja berdoa seperti yang telah kita bicarakan di atas.  Apa yang saudara lakukan selanjutnya?  Bagaimana saudara, dalam praktek, menindaklanjuti doa ini?

4.      Baca Lukas 6:46-48.  Apa yang Allah inginkan dari kita?  (Penurutah.  Ini yang Yesus kemukakan kepada BapaNya ketika Ia berkata, “Bukan kehendakKu, tapi KehendakMu.”)

1.      Lukas 6:47 memberikan langkah-langkah kepada penurutan.  Langkah-langkah apa?  (Saya lihat ada 3 langkah.  Pertama, secara sadar kita memutuskan untuk datang kepada Allah.  Kedua, kita “mendengarkan” perkataan Allah.  Terakhir, kita praktekkan perkataan Allah.)

1.      Apa artinya “mendengarkan” perkataan Allah? (Terutama berarti apa yang sedang saudara lakukan saat ini – mempelajari firman Allah, Alkitab.)

1.      Baca Lukas 6:49.  Apa kegagalan dari pembangun rumah ini?  (Tidak mempraktekkan perkataan Allah.)

1.      Dalam perumpamaan ini, menurut saudara “rumah” mewakili apa?  (Hidup saudara!)

2.      Apa yang diwakili oleh banjir? (Masa-masa sukar.  Pengadilan terakhir.)

3.      Jika rumah tersebut adalah hidup kita, keuntungan pribadi apa yang peroleh dengan menjadikan Allah prioritas utama kita? (Inilah “rahasia” ajaib tentang menjadikan Allah yang pertama – kehidupan kita diberkati.)

2.      Baca Epesus 5:28.  Ini bukanlah satu-satunya ayat favorit saya.  Saya yakin bahwa ayat ini melampaui hubungan perkawinan.  Pelajaran apa yang kita temukan dari ayat ini tentang mengasihi diri kita sendiri? (Ini adalah penjelasan lebih lengkap tentang rahasia dari menjadikan Allah yang pertama.  Allah mengajarkan bahwa jika kita menurutiNya (oleh, contohnya, mencintai pasangan kita) kita akan memberi berkat pada diri kita sendiri.  Menjadikan Allah prioritas pertama, berujung berkat bagi kita.)

  1. Waktu untuk Memikirkan Prioritas Kita

1.      Baca Markus 1:35 dan Mazmur 5:4.  Tak satupun dari kedua ini yang memberi perintah.  Ayat-ayat ini menjelaskan fakta bahwa Yesus dan Daud menghampiri Allah di pagi hari.  Sudahkan saudara coba datang kepada Allah oleh mempelajari firmanNya pada pagi hari?  Jika ya, apakah saudara dapati bahwa datang pada pagi hari lebih baik dari datang pada sore hari? (Ketika saya menulis ini, hari masih pagi dan saya sedang berada di sebuah hotel.  Sesaat sebelum saya membaca ayat-ayat di buku Markus dan Mazmur ini, saya sedang menutup komputer saya karena saya pikir sudah waktu check-out.  Saya ungkapkan kepada istri saya bahwa saya telah dapati betapa pentingnya bagi saya untuk belajar dan menulis pelajaran ini pada pagi hari.  Ia mendapati bahwa kami masih punya satu jam sebelum check out, dan saya bisa lanjut bekerja.  Ayat berikut yang saya baca adalah ayat-ayat dalam Markus dan Mazmur ini – yang menegaskan apa yang baru saja saya sampaikan padanya!)

2.      Sebagai tambahan bagi mempersembahkan kepada Allah pikiran yang lebih jernih di pagi hari, apa lagi yang dilakukan oleh doa pagi dan pelajaran Alkitab bagi kita?  (Menolong ingatkan kita tentang prioritas Allah bagi hidup kita hari ini.)

3.      Sobat, Allah menuntut hidup saudara karena Ia menciptakan saudara kemudian menyelamatkan saudara dari kematian kekal.  Akankan saudara menetapkan tiap pagi untuk datang kepadaNya dan menjadikan kehendakNya sebagai prioritas saudara untuk hari itu?

  1. Penggalian Berikutnya:  Tuhan atas Pemikiran kita.

Komentar bertahan »

Pelajaran 1: Jesus Kristus Tuhan dan Juruselamat Kita

 Jesus Kristus Tuhan dan Juruselamat Kita

(Mazmur 14, Roma 3, 1 Korintus 18, Kisah 22)

Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan:  Pelajaran 1

 

Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs.  Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain.  Jawaban yang disarankan terdapat di antara tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran.  Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Pendahuluan:  Apakah saudara senang disebut “bodoh” atau “bebal?”  Walau saya tidak meributkan hal ini, pelajaran kita minggu ini sedikit mengubek-ubek istilah “bodoh”.  Kalau tidak suka dengan istilah itu, barangkali saudara sebaiknya kabur!  Serius, apakah berbahaya untuk berpikir bahwa kita tidak bodoh?  Jika kita bodoh, adakah jalan untuk menjadi “mantan orang bodoh?”  Seri pelajaran baru yang dimulaikan minggu ini mengajak kita untuk memikirkan kembali setiap aspek kehidupan kita.  Gantinya percaya pada pikiran bodoh kita, kebijaksanaan kita, kita akan mempelajari manfaat dari memandang kepada Allah untuk mengatasi masalah-masalah dalam hidup kita.  Mari kita mulai!

 

1.     

Orang-orang Bodoh

 

1.     

Baca Mazmur 14:1.  Selintas kilas, mengapa orang bebal itu busuk atau jahat?  (Nampaknya karena ia tidak percaya akan Allah.)

 

1.     

Mengapa bagian kedua dari ayat ini mengatakan “tidak ada” yang berbuat baik? Atau, adakah itu berarti “tidak ada orang bebal yang berbuat baik?”

 

2.     

Baca Mazmur 14:2-3.  Apa kita masih membatasi bahwa perbuatan jahat itu milik para orang bodoh? (Allah memandang ke bawah dan melihat bahwa kita semua jahat.) 

 

1.     

Lihat lagi kedua ayat ini.  Apa sumber masalahnya?  (Kita tidak mencari atau mengerti Allah.  Kita sudah “menyeleweng.”)

 

2.     

Lantas, apa kita semua orang bodoh?  Tentu saja mereka yang membaca pelajaran GoBible percaya adanya Allah.  Bahkan pembaca GoBible adalah orang-orang bodoh?  (Pemazmur menyebutkan bahwa kita tidak sungguh-sungguh soal menerima Allah sebagai Tuhan kita.  Kita tidak sungguh-sungguh soal mengerti dan mencari Allah.  Ini menjadikan kita semua orang bodoh.)

 

3.     

Dalam Roma 3:10-17 Paulus mengutip Mazmur 14:1-3 (dan ayat Mazmur lain) untuk menyusun sebuah kesimpulan logis.  Baca Roma 3:19-20.  Dengan mempertimbangkan bahwa kita tahu kita semua bodoh, apa gunanya hukum?  (Untuk mencegah kita menyombong soal betapa baiknya kita dan untuk membuat kita mawas diri bahwa kita bodoh!)

 

4.     

Baca Roma 3:21-22.  Adakah harapan bagi orang bodoh?  (Ya.  Orang bodoh memiliki jalan kepada kebenaran yang datang melalui iman di dalam Yesus semata.)

 

5.     

Baca Roma 3:23-26.  Minggu lalu kita mengakhiri pelajaran kita tentang injil Markus.  Kita baru saja melewati penyaliban dan kebangkitan Yesus.  Bagaimana salib menunjukkan (ay. 25) keadilan Allah? (Salib menunjukkan kita bahwa Allah memperlakukan dosa dengan sangat serius.  Kita orang-orang bodoh tidak memahami hal ini sejelas yang seharusnya, tapi Allah memperlakukan dosa dengan amat serius hingga Ia rela mengalami kematian yang menyakitkan untuk membayar sanksi atas dosa kita.)

 

6.     

Kesimpulan apa yang seharusnya kita capai pada titik ini?  (Orang-orang bodoh mempunyai jalan masuk untuk menjadi orang benar oleh percaya dalam Yesus.  Di saat yang sama, dosa adalah suatu hal yang sangat berbahaya yang orang-orang bodoh harus perlakukan dengan serius.)

 

2.     

Orang Bodoh Yang Pulih

 

1.     

Baca 1 Korintus 1:18.  Apa yang memisahkan orang bodoh total dari orang bodoh yang pulih?  (Apakah mereka percaya kepada “pemberitaan tentang salib” atau tidak.)

 

1.     

Apa “pemberitaan tentang salib” itu? (Pemberitaan tentang salib adalah bahwa dalam keberadaan kita, kita semua adalah orang bodoh.  Satu-satunya jalan kepada keselamatan adalah melalui kuasa Allah.  Pemberitaan tentang salib adalah juga tentang kasih Allah yang tak terbatas dan ketidaktoleransian-Nya terhadap dosa.)

 

2.     

Baca 1 Korintus 1:19-21.  Apa masalahnya dengan kearifan dunia?  (Tidak mengetahui Allah, tidak mengenal Yesus.)

 

1.     

Jika saudara perhatikan dengan seksama 1 Korintus 1:21, sepertinya disebutkan bahwa adalah rencana Allah (“hikmat”-Nya) bahwa kearifan duniawi tidak akan mengerti Yesus.  Mengapa Allah ingin menghindarkan dukungan dari kearifan dunia? (Kita sedang mulai melihat sebuah sanggahan melawan percaya diri.  Percaya diri dalam bidang kebijaksanaan membawa kita ke dalam kesulitan.  Makin kurang bodoh kita dalam standar dunia, makin tambah bodoh kita dalam standar Allah.)

 

3.     

Apakah ini berarti bahwa Kekristenan “anti-cerdik pandai?”

 

1.     

Baca 1 Korintus 1:22-25.  (Allah adalah bijaksana serta kuat lebih dari ukuran kearifan dan kekuatan manusia.  Artinya Allah tidaklah “anti-cerdik pandai”;artinya kita tidak cukup mengerti kebijaksanaan-Nya.)

 

4.     

Baca 1 Kor 1:26-29.  Kabar baik apa yang tertera di sana bagi kita? (Bahwa kita semua mempunyai kemungkinan untuk pulih dari kebodohan dan untuk mempelajari kebijaksanaan Allah!  Kita tidak perlu pintar dari lahir untuk mendapatkan bagian dalam kebijaksanaan Allah.)

 

3.     

Contoh Kebodohan

 

1.     

Baca Kisah 22:2-3.  Apakah Paulus seorang berpendidikan tinggi? (Ya.)

 

1.     

Apa bidang studinya?  (Agama)

 

2.     

Baca Kisah 22:4-5.  Betapa bersemangat dan rajinkah Paulus?
Apa saudara mau mempekerjakannya?

 

2.     

Baca Kisah 22:6-9.  Apa yang mengawali perubahan dalam hidup Saulus (Paulus)?  (Ia melihat cahaya.)

 

1.     

Baca Kisah 9:10-14.  Apakah Ananias prihatin bahwa Allah tidak sepenuhnya mengetahui ihwal Saulus/Paulus?
Adakah Allah sedang memilih seorang bodoh untuk pergi berbicara kepada seorang bodoh lainnya?

 

1.      Apakah ini kabar baik atau kabar buruk?

 

3.     

Baca Kisah 9:15.  Mengapa Allah memilih Saulus?

 

4.     

Baca Kisah 9:17-19.  Adakah Paulus siap digunakan Allah dalam kondisinya terdahulu?

 

1.     

Apa yang salah dengan kondisinya terdahulu?  (Dikiranya ia dapat melihat.  Dikiranya ia benar.  Perlu terang baru dan kepenuhan Roh Kudus bagi Paulus untuk benar-benar melihat.)

 

5.     

Baca Kisah 22:10.  Apa tanggapan pertama Paulus tatkala melihat cahaya? (“Apakah yang harus kuperbuat?”)

 

1.     

Apa ini tanggapan yang tepat?

 

6.     

Sobat, bagaimana dengan saudara?  Apa saudara puas dengan pengetahuanmu sekarang tentang Allah?  Atau, sediakah saudara melihat terang baru, meninggalkan kebodohan di belakang dan mempelajari jalan Allah?  Jika demikian, mari ikut saya dalam petualangan besar kwartal ini untuk belajar tentang menjadikan Yesus Tuhan atas setiap aspek dalam kehidupan kita! 

 

4.      Penggalian Berikutnya:  Tuhan atas Hal-hal yang Kita Utamakan.

Komentar bertahan »

Kaca Spion (Renungan dari Andy Noya, “Kick Andy” Metro TV)

Kaca Spion (Renungan dari Andy Noya, “Kick Andy” Metro TV)

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado
yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang
mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru,
sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir sayaterus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan
Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.

Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnyasia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya
dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu
itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan,order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan saya – harus bisa bertahan hidup sebulan.

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir
bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.

Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.

Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat.vMereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ”Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado
langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,” ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, “Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras.” Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji
yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.

Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak. Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang,sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena
terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion.

Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang ecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera
luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.

Cerita pengalaman kehidupan dari “Kick Andy” Andy Noya Metro TV..

Refleksi:
Mengapa harus sombong dengan kekayaan yang kita miliki, karena kekayaan tiada berguna sama sekali, lebih baik menghidupkan lagi rasa toleransi yang ada pada diri untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.. (Kaya sombong aja bisa buat Tuhan Marah, Apalagi kalo miskin sombong)…

Komentar bertahan »