BERSYUKUR
Abeng memiliki seekor kuda peliharaan. Setiap hari dia mengurusnya dengan memberi makan, memandikan, membersihkan kandang, kemudian menungganginya untuk jalan-jalan selama satu jam. Begitu setiap pagi.
Tapi pada suatu pagi ketika bangun tidur Abeng menemukan pintu kandang telah dicongkel orang dan kuda kesayangannya itu hilang. Sebagaimana biasa dia lakukan setiap kali mengalami apa saja, Abeng langsung menelpon pendetanya.
“Pak Abeng, jangan bersedih. Saya akan mendoakan anda,” kata pendeta membesarkan hatinya.
“Oh, tidak masalah, pak pendeta,” tutur Abeng. “Biar kuda saya hilang saya tetap bersyukur.”
“Memang saya tahu pak Abeng imannya kuat…” puji pak pendeta.
“Bukan soal iman, pak pendeta,” sela Abeng. “Saya bersyukur karena waktu kuda itu hilang saya sedang tidak menungganginya. Begini saya juga sudah ikut hilang!” kata Abeng mantap.
(Pesan moral: Bersyukur seyogianya adalah pola hidup umat Tuhan. Dalam keadaan apapun. Kalimat identik yang paling sering diulang-ulangi dalam Alkitab adalah “Bersyukurlah…sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” [41 ayat dalam Terjemahan Baru LAI.] Banyak perkara-perkara semawi yang lebih dipahami oleh orang-orang yang bersahaja, seperti kata Yesus: “Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” [Matius 11:25].)

