Arsip untuk Humor

Bersyukur

BERSYUKUR

 

Abeng memiliki seekor kuda peliharaan. Setiap hari dia mengurusnya dengan memberi makan, memandikan, membersihkan kandang, kemudian menungganginya untuk jalan-jalan selama satu jam. Begitu setiap pagi.

Tapi pada suatu pagi ketika bangun tidur Abeng menemukan pintu kandang telah dicongkel orang dan kuda kesayangannya itu hilang. Sebagaimana biasa dia lakukan setiap kali mengalami apa saja, Abeng langsung menelpon pendetanya.

“Pak Abeng, jangan bersedih. Saya akan mendoakan anda,” kata pendeta membesarkan hatinya.

“Oh, tidak masalah, pak pendeta,” tutur Abeng. “Biar kuda saya hilang saya tetap bersyukur.”

“Memang saya tahu pak Abeng imannya kuat…” puji pak pendeta.

“Bukan soal iman, pak pendeta,” sela Abeng. “Saya bersyukur karena waktu kuda itu hilang saya sedang tidak menungganginya. Begini saya juga sudah ikut hilang!” kata Abeng mantap.

 

(Pesan moral: Bersyukur seyogianya adalah pola hidup umat Tuhan. Dalam keadaan apapun. Kalimat identik yang paling sering diulang-ulangi dalam Alkitab adalah “Bersyukurlah…sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” [41 ayat dalam Terjemahan Baru LAI.] Banyak perkara-perkara semawi yang lebih dipahami oleh orang-orang yang bersahaja, seperti kata Yesus: “Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” [Matius 11:25].)

Komentar (2) »

Berdoa

BERDOA

 

Pemuda: Pak pendeta, apakah berdosa kalau kita berdoa di tempat judi, misalnya di kasino?

Pendeta: Kamu suka ke kasino ya?

Pemuda: Baru satu kali, hari Minggu lalu. Karena diajak teman.

Pendeta: Kenapa, memangnya waktu itu kamu berdoa di kasino? Tumben-tumbenan!

Pemuda: Teman saya yang minta. Bahkan dia yang tidak pernah masuk gereja ikut juga berdoa dengan saya.

Pendeta: Apa yang kalian doakan?

Pemuda: Teman saya ingin menang judi. Kami berdoa sungguh-sungguh, malah lebih serius daripada waktu berdoa di gereja.

Pendeta: Lalu, bagaimana hasilnya?

Pemuda: Puji Tuhan, pak pendeta. Hari itu dia menang besar!

Pendeta: Kamu bilang di kasino itu kamu berdoa lebih sungguh-sungguh daripada di gereja?

Pemuda: Saya tidak mau mempermalukan nama Tuhan. Saya ingin buktikan kepada teman saya itu bahwa doa yang tekun pasti dijawab Tuhan.

Pendeta: Jadi, apakah sekarang teman kamu itu sudah mau masuk gereja?

Pemuda: Tidak. Saya takut dia kecewa.

Pendeta: Maksudnya?

Pemuda: Saya takut berdoa di gereja hasilnya tidak manjur, karena kurang sungguh-sungguh. Berdoa di kasino kita lebih sungguh-sungguh!

 

(Pesan moral: Tuhan menjawab doa kepentingan umat-Nya, bukan demi keinginan kita. Setiap doa yang benar ada jawabnya, tetapi tidak semua yang kita dapatkan adalah jawaban dari doa kita. Waktu dan tempat juga tidak menentukan apakah doa kita akan dijawab atau tidak. Dalam doa orang benar ada peran Roh yang “berdoa untuk kita…dan Allah  mengetahui maksud Roh itu” [Roma 8:26, 27]. Jadi, bagaimana harus berdoa? “Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku” [1Korintus 14:15].)

Komentar bertahan »

Sama-Sama

SAMA-SAMA

 

Pak Soleman, yang belum ini diangkat sebagai ketua jemaat, marah-marah setelah melihat rekening telepon bulan ini yang jauh melonjak. Diapun mengadakan rapat keluarga dengan memanggil semua orang dalam rumah untuk membahas soal ini. Termasuk Inem, sang PRT (pembantu rumah tangga).

“Kita harus perketat pemakaian telepon rumah karena rekening bulan ini naik sampai dua kali lipat,” katanya. “Padahal saya lebih sering menggunakan telepon di kantor.”

“Saya juga selalu memakai telepon di tempat kerja,” kata istrinya, staf administrasi di sebuah pabrik garmen.

“Saya juga begitu,” kata Anton dan Santi hampir bersamaan. “Kami hanya pakai telepon genggam inventaris kantor.” Keduanya adalah karyawan bagian pemasaran di bank yang berbeda.

Sekarang semua mata tertuju kepada Inem. Sadar bahwa dirinya yang harus bertanggungjawab atas melonjaknya rekening telepon rumah, sambil tertunduk PRT yang memang hobi mengobrol di telepon inipun berkata pelan:

“Seperti yang lain-lain juga, saya hanya memakai telepon milik tempat kerja saya…”

 

(Pesan moral: Pola berpikir “tidak mau rugi” sering menjebak banyak orang untuk secara “tak sengaja” berlaku tidak  jujur di tempat kerja. Ketidakjujuran bisa dari yang paling sederhana dengan memanfaatkan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, sampai korupsi dan komersialisasi jabatan. Namun, sebagai umat Tuhan integritas pribadi adalah harga mati. Seperti Paulus, “Sebab itu aku senantiasa untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia” Kisah Para Rasul 24:16.)

Komentar bertahan »

Keliru

KELIRU

 

            Dua orang pemuda sedang asyik menikmati pemandangan di daerah pegunungan ketika sekonyong-konyong turun hujan lebat. Serentak keduanya mengambil langkah seribu menuju mobil yang diparkir agak jauh.          

Di tengah guyuran hujan, sesaat setelah menghidupkan mesin mobil dan bergegas hendak pergi, tiba-tiba jendela di sisi penumpang diketuk orang dari luar. Seraut wajah lelaki kumal melongok dari balik kaca.

            “Buka sedikit saja kaca mobil dan tanya dia mau apa,” kata pemuda yang duduk di belakang setir.

            “Boleh minta makanannya?!” kata lelaki asing itu.

            Pemuda di kursi penumpang buru-buru menyodorkan roti lalu menutup kembali jendela mobil. “Ayo tancap!” teriaknya kepada temannya yang langsung menginjak gas.

            Beberapa menit berlalu. Di bawah hujan yang semakin deras, tiba-tiba jendela mobil diketuk lagi. Wajah kumal yang sama itu muncul lagi.

            Koq dia masih bisa ngejar kita? Jangan-jangan hantu!” kata pemuda di kursi penumpang.

            “Tanya saja, dia mau minta apa lagi?” desak temannya tanpa berhenti menginjak pedal gas sehingga menimbulkan suara mesin mobil yang menderu-deru.

            “Minta air minumnya!” kata lelaki dari balik kaca jendela itu.

Sebotol air mineral disodorkan kepadanya dan lelaki itupun menghilang.

            “Sialan, daerah sini rupanya angker ya,” kata pengemudi sambil kakinya terus memacu gas.

            Baru saja dia selesai bicara tiba-tiba kaca jendela mobil diketuk lagi, dan…lelaki yang sama menampakkan wajahnya kembali.

            “Gila! Kita gak bisa lolos dari hantu!” teriak pengemudi. “Coba tanya, dia mau apa lagi?!”

            Dengan tangan gemetar temannya menurunkan kaca jendela mobil untuk ketiga kalinya. “Perlu apa lagi, pak?”

Tapi lelaki yang disangka hantu itu balik bertanya: “Kalian perlu bantuan untuk menarik mobil ini keluar dari lumpur?”

 

(Pesan moral: Kehidupan rohani kita sering seperti ini, serasa sedang melaju padahal cuma berjalan di tempat. Ketika ada orang hendak mengingatkan malah dianggap mengusik “comfort zone” kita. Alkitab menasihati agar terus mencapai “kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” [Efesus 4:13]. Caranya? Dengan menjadi “sama seperti bayi…yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan” [1Petrus 2:2].)

Komentar bertahan »

Kecerdasan

KECERDASAN

 

“Ayah, kata nenek aku anak pintar,” celoteh seorang bocah kepada ayahnya.

“Memang kamu anak pintar,” jawab sang ayah.

“Kalau begitu, kepintaran aku asalnya dari siapa? Dari ayah atau ibu?”

            “Pasti itu dari ibumu,” sahut ayah.

            “Dari ibu? Bagaimana ayah tahu?”

            “Karena kecerdasan ayah masih tetap ada!”

 

(Pesan moral: Secara alamiah, konon, kaum pria lebih cenderung menggunakan rasio dan kognisi, sedangkan kaum wanita lebih condong memakai emosi dan naluri. Namun berhati-hatilah orang yang merasa diri pintar, sebab belum tentu dia berguna bagi Tuhan. Karena “orang yang berakal budi hanya berguna bagi dirinya sendiri” [Ayub 22:2]. Dalam perspektif rohani, seseorang disebut berakal budi kalau dia “mencari Allah” [Mazmur 14:2; 53:3]; sebab jika manusia tidak mencari Allah berarti dia tidak berakal budi [Roma 3:11].)

Komentar bertahan »

Setengah

SETENGAH

 

            Dalam suatu rapat majelis jemaat salah seorang anggota yang terkenal berlidah tajam dan gampang marah mendadak naik pitam pada saat perbincangan suatu agenda.

            “Memang dari dulu saya sudah tahu, setengah dari anggota majelis ini adalah orang-orang munafik!” ketusnya dengan suara tinggi.

            Tentu saja para anggota majelis lainnya tidak terima dengan tudingan yang kasar itu. Terjadi sedikit kegaduhan dan beberapa orang menuntut agar dia menarik kembali kata-katanya tadi.

            “Saudara ketua, saya minta dia menarik perkataannya tadi atau dikeluarkan dari rapat ini!” tukas salah seorang anggota dengan sengit.

            Anggota majelis yang pemarah itu tampak seperti menyadari keteledorannya. Lalu dia berkata dengan nada rendah:

 “Baiklah, saudara-saudara, saya meralat perkataan saya tadi. Maksud saya adalah: Setengah dari anggota majelis ini BUKAN orang-orang munafik!”

 

(Pesan moral: Tentu saja, menambahkan kata “bukan” pada pernyataan sebelumnya selain tidak mengubah makna juga terkesan mempertegasnya. Munafik memang sifat paling memalukan, dan tak seorangpun rela dituding demikian—sekalipun faktanya memang begitu. “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan…” [1Petrus 2:1]; “Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya” [Yakobus 1:8].)

Komentar bertahan »

Rahasia Umur Panjang

RAHASIA UMUR PANJANG

 

            Opa Yonas, anggota tertua di jemaat itu, merayakan hari ulang tahunnya yang ke-80. Meskipun umur sudah terbilang lanjut namun kakek ini masih tampak sehat dan tegap.

            “Opa sudah tua tapi masih kelihatan gagah dan sehat. Apa rahasianya?” tanya pemandu acara. Ratusan hadirin bertepuk riuh.

            “Begini, saudara-saudara. Kalian tentu masih ingat bahwa belum lama ini saya dan istri saya juga merayakan pesta kawin emas,” tutur opa Yonas sambil melirik si oma yang duduk di samping sembari tersenyum-senyum.

            “Pada malam pengantin, kami berdua mengadakan suatu janji. Apabila terjadi pertengkaran di antara kami berdua, pihak yang terbukti salah harus pergi ke luar rumah dan berjalan kaki selama dua jam,” lanjut opa. “Dan seperti kalian lihat, saya jauh lebih sehat dibandingkan dengan oma, karena saya tidak pernah mangkir untuk melaksanakan janji itu!”

 

(Pesan moral: Terserah persepsi anda, apakah opa ini tetap sehat karena rajin jalan kaki, atau sebab pasangan ini sering bertengkar selama limapuluh tahun perkawinan mereka—dan si opa lebih kerap salah sehingga harus jalan kaki! Kaum optimistik sering berkata bahwa ‘pertengkaran adalah bumbu penyedap dalam rumahtangga.’ Tetapi orang bijak menasihati, “Memulai pertengakaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.” Amsal 17:14.)

Komentar bertahan »

Sumpah Perkawinan

SUMPAH PERKAWINAN

 

            Saat latihan pada malam sebelum upacara pernikahan, calon pengantin pria mendekati pendeta sambil berbisik, “Pak pendeta, ini cek Rp. 1 juta.”

            “Untuk apa ini?” tanya pendeta.

            “Besok, waktu pengucapan sumpah perkawinan, pada bagian untuk pengantin pria saya ingin bapak menghilangkan kata-kata ‘meninggalkan yang lain dan berdampingan hanya dengan istrimu selama kalian berdua hidup.’

            Keesokan harinya, ketika pengucapan sumpah perkawinan, pendeta memandu pengantin pria dengan mengatakan: “Maukah anda berjanji, di hadapan Tuhan dan di hadapan saksi-saksi yang hadir, untuk mengasihi dan melayani istrimu, baik waktu sehat atau sakit, dalam keberuntungan maupun kemalangan, dan selalu tunduk kepada perintahnya serta menuruti apapun kemauannya, selama kalian berdua hidup?”

            “Ii..iya” pengantin pria menjawab dengan tergagap dan sangat pelan.

            Usai upacara, pengantin pria menghampiri pendeta dan dengan penasaran bergumam, “Pendeta, bukannya kita sudah ada perjanjian? Sumpah tadi malah memberatkan saya dengan kalimat tambahan itu!”

            Sambil mengembalikan cek yang diterimanya kemarin ke tangan pengantin pria, pendeta berkata, “Tawaran istrimu jauh lebih tinggi!”

 

(Pesan moral: Sekorup-korupnya pendeta tidak pernah terdengar ada yang sampai sebejat itu merekayasa sumpah perkawinan. Namun pada kenyataannya banyak istri yang begitu “menguasai” suaminya seolah-olah sang suami memang benar-benar telah bersumpah untuk selalu takluk kepada sang istri meski diperlakukan seperti ajudan. Padahal sebaliknya, hendaknya “perempuan-perempuan muda mengasihi suami…baik hati dan taat kepada suaminya.” Titus 2:4, 5.)

Komentar bertahan »

Supaya Tahu

SUPAYA TAHU

 

            “Sayang, aku sekarang sedang dalam perjalanan pulang,” kata seorang suami kepada istrinya melalui telpon genggam. “Dan saya mengajak seorang teman untuk makan malam di rumah.”

            “Apa? Kamu gila ya?” sergah istrinya. “Hari ini aku belum sempat belanja, rumah lagi berantakan, pakaian kotor menumpuk, piring-piring bekas sarapan dan makan siang saja belum sempat dicuci. Lagian malam ini aku lagi malas!”

            “Aku sudah tahu semua itu.”

            “Lalu, kenapa kamu pake ngajak teman segala untuk makan malam di rumah?”

            “Aku mau dia ngebuktiin sendiri.”

            “Bukti apaan?”

            “Soalnya,” jelas sang suami, “temanku si lelaki dungu ini ngotot mau nikah. Katanya dia jadi bersemangat karena melihat aku sudah menikah!”

 

(Pesan moral: Salomo berkata, “Istri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.” Amsal 12:4. [Terjemahan “cakap” dalam versi King James ialah “excellent” atau terbaik.] Tak ada istri yang sempurna, memang; demikian pula, tak ada suami yang ingin tulang-tulangnya menjadi busuk akibat ulah istrinya—terkecuali suami yang dungu.)

Komentar bertahan »

Salah Mengerti

SALAH MENGERTI?

 

Karena nakalnya, hari itu Sami dihukum ibu tidak boleh bermain di luar rumah. Setelah beberapa waktu mendekam di dalam kamar, Sami tak tahan lagi mendengar keriuhan teman-temannya yang asyik bermain. Dia lalu menghampiri ibunya di dapur.

“Mama, barusan aku berdoa sendirian di kamar,” kata Sami.

“Oh, bagus itu,” sahut ibunya. “Kalau kamu berdoa meminta Tuhan menolong kamu supaya tidak nakal, pasti doamu terkabul.”

“Aku tidak berdoa supaya Tuhan menolong aku tidak nakal lagi,” papar Sami.

“Jadi, kamu berdoa untuk apa?”

“Aku berdoa supaya Tuhan menambahkan lagi kesabaran kepada ibu.”

“Hukuman kamu ditambah menjadi tiga hari tidak boleh bermain di luar rumah. Pergi sekarang ke kamarmu!” tukas ibunya dengan jengkel.

 

(Pesan moral: Sifat memperdayai orang lain merupakan sifat bawaan manusia berdosa. Bahkan dengan mempergunakan dan merekayasa hal-hal yang rohani dan sakral demi kepentingan diri sendiri. Dalam menilai motif seseorang, rumus Alkitabiah ini berlaku: “Rancangan orang benar adalah adil, tujuan orang fasik memperdaya.” Amsal 12:5.)

Komentar bertahan »