Arsip untuk November 5, 2008

Bersyukur

BERSYUKUR

 

Abeng memiliki seekor kuda peliharaan. Setiap hari dia mengurusnya dengan memberi makan, memandikan, membersihkan kandang, kemudian menungganginya untuk jalan-jalan selama satu jam. Begitu setiap pagi.

Tapi pada suatu pagi ketika bangun tidur Abeng menemukan pintu kandang telah dicongkel orang dan kuda kesayangannya itu hilang. Sebagaimana biasa dia lakukan setiap kali mengalami apa saja, Abeng langsung menelpon pendetanya.

“Pak Abeng, jangan bersedih. Saya akan mendoakan anda,” kata pendeta membesarkan hatinya.

“Oh, tidak masalah, pak pendeta,” tutur Abeng. “Biar kuda saya hilang saya tetap bersyukur.”

“Memang saya tahu pak Abeng imannya kuat…” puji pak pendeta.

“Bukan soal iman, pak pendeta,” sela Abeng. “Saya bersyukur karena waktu kuda itu hilang saya sedang tidak menungganginya. Begini saya juga sudah ikut hilang!” kata Abeng mantap.

 

(Pesan moral: Bersyukur seyogianya adalah pola hidup umat Tuhan. Dalam keadaan apapun. Kalimat identik yang paling sering diulang-ulangi dalam Alkitab adalah “Bersyukurlah…sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” [41 ayat dalam Terjemahan Baru LAI.] Banyak perkara-perkara semawi yang lebih dipahami oleh orang-orang yang bersahaja, seperti kata Yesus: “Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” [Matius 11:25].)

Komentar (2) »

Berdoa

BERDOA

 

Pemuda: Pak pendeta, apakah berdosa kalau kita berdoa di tempat judi, misalnya di kasino?

Pendeta: Kamu suka ke kasino ya?

Pemuda: Baru satu kali, hari Minggu lalu. Karena diajak teman.

Pendeta: Kenapa, memangnya waktu itu kamu berdoa di kasino? Tumben-tumbenan!

Pemuda: Teman saya yang minta. Bahkan dia yang tidak pernah masuk gereja ikut juga berdoa dengan saya.

Pendeta: Apa yang kalian doakan?

Pemuda: Teman saya ingin menang judi. Kami berdoa sungguh-sungguh, malah lebih serius daripada waktu berdoa di gereja.

Pendeta: Lalu, bagaimana hasilnya?

Pemuda: Puji Tuhan, pak pendeta. Hari itu dia menang besar!

Pendeta: Kamu bilang di kasino itu kamu berdoa lebih sungguh-sungguh daripada di gereja?

Pemuda: Saya tidak mau mempermalukan nama Tuhan. Saya ingin buktikan kepada teman saya itu bahwa doa yang tekun pasti dijawab Tuhan.

Pendeta: Jadi, apakah sekarang teman kamu itu sudah mau masuk gereja?

Pemuda: Tidak. Saya takut dia kecewa.

Pendeta: Maksudnya?

Pemuda: Saya takut berdoa di gereja hasilnya tidak manjur, karena kurang sungguh-sungguh. Berdoa di kasino kita lebih sungguh-sungguh!

 

(Pesan moral: Tuhan menjawab doa kepentingan umat-Nya, bukan demi keinginan kita. Setiap doa yang benar ada jawabnya, tetapi tidak semua yang kita dapatkan adalah jawaban dari doa kita. Waktu dan tempat juga tidak menentukan apakah doa kita akan dijawab atau tidak. Dalam doa orang benar ada peran Roh yang “berdoa untuk kita…dan Allah  mengetahui maksud Roh itu” [Roma 8:26, 27]. Jadi, bagaimana harus berdoa? “Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku” [1Korintus 14:15].)

Komentar bertahan »

Sama-Sama

SAMA-SAMA

 

Pak Soleman, yang belum ini diangkat sebagai ketua jemaat, marah-marah setelah melihat rekening telepon bulan ini yang jauh melonjak. Diapun mengadakan rapat keluarga dengan memanggil semua orang dalam rumah untuk membahas soal ini. Termasuk Inem, sang PRT (pembantu rumah tangga).

“Kita harus perketat pemakaian telepon rumah karena rekening bulan ini naik sampai dua kali lipat,” katanya. “Padahal saya lebih sering menggunakan telepon di kantor.”

“Saya juga selalu memakai telepon di tempat kerja,” kata istrinya, staf administrasi di sebuah pabrik garmen.

“Saya juga begitu,” kata Anton dan Santi hampir bersamaan. “Kami hanya pakai telepon genggam inventaris kantor.” Keduanya adalah karyawan bagian pemasaran di bank yang berbeda.

Sekarang semua mata tertuju kepada Inem. Sadar bahwa dirinya yang harus bertanggungjawab atas melonjaknya rekening telepon rumah, sambil tertunduk PRT yang memang hobi mengobrol di telepon inipun berkata pelan:

“Seperti yang lain-lain juga, saya hanya memakai telepon milik tempat kerja saya…”

 

(Pesan moral: Pola berpikir “tidak mau rugi” sering menjebak banyak orang untuk secara “tak sengaja” berlaku tidak  jujur di tempat kerja. Ketidakjujuran bisa dari yang paling sederhana dengan memanfaatkan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, sampai korupsi dan komersialisasi jabatan. Namun, sebagai umat Tuhan integritas pribadi adalah harga mati. Seperti Paulus, “Sebab itu aku senantiasa untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia” Kisah Para Rasul 24:16.)

Komentar bertahan »