Arsip untuk Oktober 19, 2008

Keliru

KELIRU

 

            Dua orang pemuda sedang asyik menikmati pemandangan di daerah pegunungan ketika sekonyong-konyong turun hujan lebat. Serentak keduanya mengambil langkah seribu menuju mobil yang diparkir agak jauh.          

Di tengah guyuran hujan, sesaat setelah menghidupkan mesin mobil dan bergegas hendak pergi, tiba-tiba jendela di sisi penumpang diketuk orang dari luar. Seraut wajah lelaki kumal melongok dari balik kaca.

            “Buka sedikit saja kaca mobil dan tanya dia mau apa,” kata pemuda yang duduk di belakang setir.

            “Boleh minta makanannya?!” kata lelaki asing itu.

            Pemuda di kursi penumpang buru-buru menyodorkan roti lalu menutup kembali jendela mobil. “Ayo tancap!” teriaknya kepada temannya yang langsung menginjak gas.

            Beberapa menit berlalu. Di bawah hujan yang semakin deras, tiba-tiba jendela mobil diketuk lagi. Wajah kumal yang sama itu muncul lagi.

            Koq dia masih bisa ngejar kita? Jangan-jangan hantu!” kata pemuda di kursi penumpang.

            “Tanya saja, dia mau minta apa lagi?” desak temannya tanpa berhenti menginjak pedal gas sehingga menimbulkan suara mesin mobil yang menderu-deru.

            “Minta air minumnya!” kata lelaki dari balik kaca jendela itu.

Sebotol air mineral disodorkan kepadanya dan lelaki itupun menghilang.

            “Sialan, daerah sini rupanya angker ya,” kata pengemudi sambil kakinya terus memacu gas.

            Baru saja dia selesai bicara tiba-tiba kaca jendela mobil diketuk lagi, dan…lelaki yang sama menampakkan wajahnya kembali.

            “Gila! Kita gak bisa lolos dari hantu!” teriak pengemudi. “Coba tanya, dia mau apa lagi?!”

            Dengan tangan gemetar temannya menurunkan kaca jendela mobil untuk ketiga kalinya. “Perlu apa lagi, pak?”

Tapi lelaki yang disangka hantu itu balik bertanya: “Kalian perlu bantuan untuk menarik mobil ini keluar dari lumpur?”

 

(Pesan moral: Kehidupan rohani kita sering seperti ini, serasa sedang melaju padahal cuma berjalan di tempat. Ketika ada orang hendak mengingatkan malah dianggap mengusik “comfort zone” kita. Alkitab menasihati agar terus mencapai “kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” [Efesus 4:13]. Caranya? Dengan menjadi “sama seperti bayi…yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan” [1Petrus 2:2].)

Komentar bertahan »

Kecerdasan

KECERDASAN

 

“Ayah, kata nenek aku anak pintar,” celoteh seorang bocah kepada ayahnya.

“Memang kamu anak pintar,” jawab sang ayah.

“Kalau begitu, kepintaran aku asalnya dari siapa? Dari ayah atau ibu?”

            “Pasti itu dari ibumu,” sahut ayah.

            “Dari ibu? Bagaimana ayah tahu?”

            “Karena kecerdasan ayah masih tetap ada!”

 

(Pesan moral: Secara alamiah, konon, kaum pria lebih cenderung menggunakan rasio dan kognisi, sedangkan kaum wanita lebih condong memakai emosi dan naluri. Namun berhati-hatilah orang yang merasa diri pintar, sebab belum tentu dia berguna bagi Tuhan. Karena “orang yang berakal budi hanya berguna bagi dirinya sendiri” [Ayub 22:2]. Dalam perspektif rohani, seseorang disebut berakal budi kalau dia “mencari Allah” [Mazmur 14:2; 53:3]; sebab jika manusia tidak mencari Allah berarti dia tidak berakal budi [Roma 3:11].)

Komentar bertahan »

Setengah

SETENGAH

 

            Dalam suatu rapat majelis jemaat salah seorang anggota yang terkenal berlidah tajam dan gampang marah mendadak naik pitam pada saat perbincangan suatu agenda.

            “Memang dari dulu saya sudah tahu, setengah dari anggota majelis ini adalah orang-orang munafik!” ketusnya dengan suara tinggi.

            Tentu saja para anggota majelis lainnya tidak terima dengan tudingan yang kasar itu. Terjadi sedikit kegaduhan dan beberapa orang menuntut agar dia menarik kembali kata-katanya tadi.

            “Saudara ketua, saya minta dia menarik perkataannya tadi atau dikeluarkan dari rapat ini!” tukas salah seorang anggota dengan sengit.

            Anggota majelis yang pemarah itu tampak seperti menyadari keteledorannya. Lalu dia berkata dengan nada rendah:

 “Baiklah, saudara-saudara, saya meralat perkataan saya tadi. Maksud saya adalah: Setengah dari anggota majelis ini BUKAN orang-orang munafik!”

 

(Pesan moral: Tentu saja, menambahkan kata “bukan” pada pernyataan sebelumnya selain tidak mengubah makna juga terkesan mempertegasnya. Munafik memang sifat paling memalukan, dan tak seorangpun rela dituding demikian—sekalipun faktanya memang begitu. “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan…” [1Petrus 2:1]; “Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya” [Yakobus 1:8].)

Komentar bertahan »

Rahasia Umur Panjang

RAHASIA UMUR PANJANG

 

            Opa Yonas, anggota tertua di jemaat itu, merayakan hari ulang tahunnya yang ke-80. Meskipun umur sudah terbilang lanjut namun kakek ini masih tampak sehat dan tegap.

            “Opa sudah tua tapi masih kelihatan gagah dan sehat. Apa rahasianya?” tanya pemandu acara. Ratusan hadirin bertepuk riuh.

            “Begini, saudara-saudara. Kalian tentu masih ingat bahwa belum lama ini saya dan istri saya juga merayakan pesta kawin emas,” tutur opa Yonas sambil melirik si oma yang duduk di samping sembari tersenyum-senyum.

            “Pada malam pengantin, kami berdua mengadakan suatu janji. Apabila terjadi pertengkaran di antara kami berdua, pihak yang terbukti salah harus pergi ke luar rumah dan berjalan kaki selama dua jam,” lanjut opa. “Dan seperti kalian lihat, saya jauh lebih sehat dibandingkan dengan oma, karena saya tidak pernah mangkir untuk melaksanakan janji itu!”

 

(Pesan moral: Terserah persepsi anda, apakah opa ini tetap sehat karena rajin jalan kaki, atau sebab pasangan ini sering bertengkar selama limapuluh tahun perkawinan mereka—dan si opa lebih kerap salah sehingga harus jalan kaki! Kaum optimistik sering berkata bahwa ‘pertengkaran adalah bumbu penyedap dalam rumahtangga.’ Tetapi orang bijak menasihati, “Memulai pertengakaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.” Amsal 17:14.)

Komentar bertahan »

Sumpah Perkawinan

SUMPAH PERKAWINAN

 

            Saat latihan pada malam sebelum upacara pernikahan, calon pengantin pria mendekati pendeta sambil berbisik, “Pak pendeta, ini cek Rp. 1 juta.”

            “Untuk apa ini?” tanya pendeta.

            “Besok, waktu pengucapan sumpah perkawinan, pada bagian untuk pengantin pria saya ingin bapak menghilangkan kata-kata ‘meninggalkan yang lain dan berdampingan hanya dengan istrimu selama kalian berdua hidup.’

            Keesokan harinya, ketika pengucapan sumpah perkawinan, pendeta memandu pengantin pria dengan mengatakan: “Maukah anda berjanji, di hadapan Tuhan dan di hadapan saksi-saksi yang hadir, untuk mengasihi dan melayani istrimu, baik waktu sehat atau sakit, dalam keberuntungan maupun kemalangan, dan selalu tunduk kepada perintahnya serta menuruti apapun kemauannya, selama kalian berdua hidup?”

            “Ii..iya” pengantin pria menjawab dengan tergagap dan sangat pelan.

            Usai upacara, pengantin pria menghampiri pendeta dan dengan penasaran bergumam, “Pendeta, bukannya kita sudah ada perjanjian? Sumpah tadi malah memberatkan saya dengan kalimat tambahan itu!”

            Sambil mengembalikan cek yang diterimanya kemarin ke tangan pengantin pria, pendeta berkata, “Tawaran istrimu jauh lebih tinggi!”

 

(Pesan moral: Sekorup-korupnya pendeta tidak pernah terdengar ada yang sampai sebejat itu merekayasa sumpah perkawinan. Namun pada kenyataannya banyak istri yang begitu “menguasai” suaminya seolah-olah sang suami memang benar-benar telah bersumpah untuk selalu takluk kepada sang istri meski diperlakukan seperti ajudan. Padahal sebaliknya, hendaknya “perempuan-perempuan muda mengasihi suami…baik hati dan taat kepada suaminya.” Titus 2:4, 5.)

Komentar bertahan »

Supaya Tahu

SUPAYA TAHU

 

            “Sayang, aku sekarang sedang dalam perjalanan pulang,” kata seorang suami kepada istrinya melalui telpon genggam. “Dan saya mengajak seorang teman untuk makan malam di rumah.”

            “Apa? Kamu gila ya?” sergah istrinya. “Hari ini aku belum sempat belanja, rumah lagi berantakan, pakaian kotor menumpuk, piring-piring bekas sarapan dan makan siang saja belum sempat dicuci. Lagian malam ini aku lagi malas!”

            “Aku sudah tahu semua itu.”

            “Lalu, kenapa kamu pake ngajak teman segala untuk makan malam di rumah?”

            “Aku mau dia ngebuktiin sendiri.”

            “Bukti apaan?”

            “Soalnya,” jelas sang suami, “temanku si lelaki dungu ini ngotot mau nikah. Katanya dia jadi bersemangat karena melihat aku sudah menikah!”

 

(Pesan moral: Salomo berkata, “Istri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.” Amsal 12:4. [Terjemahan “cakap” dalam versi King James ialah “excellent” atau terbaik.] Tak ada istri yang sempurna, memang; demikian pula, tak ada suami yang ingin tulang-tulangnya menjadi busuk akibat ulah istrinya—terkecuali suami yang dungu.)

Komentar bertahan »

Salah Mengerti

SALAH MENGERTI?

 

Karena nakalnya, hari itu Sami dihukum ibu tidak boleh bermain di luar rumah. Setelah beberapa waktu mendekam di dalam kamar, Sami tak tahan lagi mendengar keriuhan teman-temannya yang asyik bermain. Dia lalu menghampiri ibunya di dapur.

“Mama, barusan aku berdoa sendirian di kamar,” kata Sami.

“Oh, bagus itu,” sahut ibunya. “Kalau kamu berdoa meminta Tuhan menolong kamu supaya tidak nakal, pasti doamu terkabul.”

“Aku tidak berdoa supaya Tuhan menolong aku tidak nakal lagi,” papar Sami.

“Jadi, kamu berdoa untuk apa?”

“Aku berdoa supaya Tuhan menambahkan lagi kesabaran kepada ibu.”

“Hukuman kamu ditambah menjadi tiga hari tidak boleh bermain di luar rumah. Pergi sekarang ke kamarmu!” tukas ibunya dengan jengkel.

 

(Pesan moral: Sifat memperdayai orang lain merupakan sifat bawaan manusia berdosa. Bahkan dengan mempergunakan dan merekayasa hal-hal yang rohani dan sakral demi kepentingan diri sendiri. Dalam menilai motif seseorang, rumus Alkitabiah ini berlaku: “Rancangan orang benar adalah adil, tujuan orang fasik memperdaya.” Amsal 12:5.)

Komentar bertahan »

Berbicara Kepada Tembok

BERBICARA KEPADA TEMBOK?

 

Seorang wartawan dikirim ke kota Yerusalem di Israel dalam rangka tugas peliputan selama tiga bulan. Untuk itu dia menyewa sebuah apartemen yang menghadap ke lokasi yang dikenal sebagai Tembok Ratapan, dinding dari batu yang menurut tradisi Yahudi adalah tempat untuk menyampaikan segala keluh-kesah dan permohonan sambil berdoa.

Setelah beberapa pekan tinggal di apartemen itu sang wartawan mulai menyadari bahwa ada seorang lelaki tua yang setiap pagi dan petang datang ke tembok itu untuk berdoa. Naluri kewartawanannya membawa dia untuk menunggui lelaki tua itu untuk diwawancarai.

“Saya perhatikan anda tiap hari berdoa di tembok ini. Apa yang anda doakan?” tanyanya.

“Pada pagi hari saya selalu berdoa demi perdamaian dan demi persahabatan di antara penduduk kawasan ini,” jelas lelaki tua itu. “Pada petang hari saya kembali untuk berdoa supaya segala penyakit dan kemiskinan serta ketidakadilan musnah dari dunia ini.”

“Saya kagum dengan kepedulian anda,” komentar si wartawan. “Omong-omong, sudah berapa lama anda melakukan hal itu?”

“Mungkin antara 20-25 tahun terakhir ini, setiap hari,” papar lelaki itu.

“Wah, sudah lama sekali!” kata si wartawan. “Lalu, setelah sekian lama, bagaimana perasaan anda?”

“Perasaan saya?” sergah lelaki tua. “Rasanya seperti berbicara kepada tembok!”

 

(Pesan moral: Manusia berupaya, berdoa, bermimpi, dan berangan-angan tentang dunia kita yang aman-tenteram, disertai keadilan yang berkemakmuran dan kemakmuran yang berkeadilan. Mungkinkah? “Ketahuilah, bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar;…hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik” 2Timotius 3:1; Habakuk 1:4.)

Komentar bertahan »

Banyak Pilihan

BANYAK PILIHAN?

 

Seorang pendeta menceritakan pengalaman pahitnya ketika melawat seorang anggota jemaat yang terkenal kaya-raya. Pembantu rumahtangga (PRT) keluarga itu menyambutnya dengan menyuguhkan banyak pilihan.

 

PRT: Bapak mau minum apa? Jus buah, soda, teh, iced chocolate, cappuccino, frapuccino, atau kopi?

Pendeta: Teh saja.

PRT: Teh biasa, teh manis, green tea, atau herbal tea?

Pendeta: Teh biasa.

PRT: Panas atau dingin?

Pendeta: Panas.

PRT: Mau pakai krim atau susu?

Pendeta: Pakai susu boleh.

PRT: Susu kambing atau susu sapi?

Pendeta: Susu sapi.

PRT: Susu sapi lokal, atau impor?

Pendeta: Kalau ada yang impor boleh juga.

PRT: Susu sapi asal Australia, Swiss, atau Belanda?

Pendeta: Terserah, apa saja.

PRT: Bapak suka agak manis?

Pendeta: Ya, boleh.

PRT: Pakai gula biasa, brown sugar, atau madu?

Pendeta: Madu.

PRT: Madu Sumbawa, New Zealand, atau Australia?

Pendeta: Pokoknya madu.

PRT: Ada madu botolan, ada juga sachet. Bapak pilih yang mana?

Pendeta: Ah, sudahlah. Kasih saya air putih saja!

PRT: Air biasa atau air mineral?

Pendeta: Air mineral.

PRT: Air mineral dari dispenser atau air mineral kemasan?

Pendeta: Terserah kamu, pokoknya air mineral!

PRT: Mau yang plain, atau flavored?

Pendeta: Cukup! Bilang saja sama majikan kamu, saya tidak jadi minum apa-apa!

 

(Pesan moral: Iptek [ilmu pengetahuan dan teknologi] maupun modernisasi memang menawarkan banyak pilihan kenikmatan hidup, sekaligus juga sofistikasi yang ruwet. Namun, sesungguhnya dalam hidup ini manusia hanya menghadapi dua pilihan. “Dengarkan! Aku, Tuhan, memberi kepadamu suatu pilihan: jalan yang menuju kehidupan, atau jalan yang menuju kematian.” Yeremia 21:8, BIS)

Komentar bertahan »

Kekayaan & Soal Makan

KEKAYAAN DAN SOAL MAKAN

 

            Konon, kecenderungan orang miskin selalu bertanya, “Besok mau makan apa?”

            Ketika dia menjadi cukup kaya pertanyaannya akan berubah menjadi, “Besok mau makan di mana?”

            Tatkala kehidupannya semakin berhasil dan dia bertambah kaya, pertanyaannya adalah, “Besok mau makan seperti siapa?”

            Sewaktu kekayaannya terus menumpuk, pertanyaan di hatinya ialah, “Besok mau makan dengan siapa?”

            Manakala kekayaannya kian berlimpah-limpah maka pertanyaan yang akan muncul dalam benaknya adalah, “Besok mau makan siapa?”

 

(Pesan moral: Kekayaan dan kekuasaan sering tampil sebagai dua saudara kembar identik yang hampir selalu berjalan berdampingan. Tidak menjadi soal siapa yang lahir lebih dulu dan siapa yang lahir kemudian—atau mana yang datang lebih dulu, kekayaan atau kekuasaan. Sayangnya, keduanya sering memiliki reputasi yang buruk karena kerap dijadikan alat untuk menindas gantinya menolong orang lain. Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi sesamanya. Karena itu, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu,” pesan Yesus dalam Lukas 12:15.)

Komentar bertahan »