Oktober 13, 2008
· Disimpan dalam Humor
TIDAK COCOK
Dalam suatu upacara penguburan, pendeta yang menyampaikan khotbah penghiburan berbicara panjang-lebar tentang berbagai hal yang baik mengenai almarhum. Bahwa dia adalah seorang Kristen yang setia, tekun beribadah, giat membantu pekerjaan Tuhan, dan sejuta kebaikan lainnya. Biasa, klise.
Sang istri yang duduk agak jauh dari peti jenazah, bersama kedua putra-putrinya yang masih di bawah umur, tampak terus menunduk. Terlihat dia agak gelisah mendengar khotbah itu.
“Saya mengenal almarhum sebagai seorang ayah yang sangat bertanggungjawab pada keluarga. Saya belum pernah melihat seorang suami yang begitu setia dan paling sayang kepada istri,” pendeta melanjutkan pujiannya.
Tidak tahan lagi, istri almarhum berbisik kepada putra tertuanya. “Iksan, coba kamu ngintip ke dalam peti jenazah. Apa itu betul bapakmu, atau orang lain?”
(Pesan moral: Ada yang berkata bahwa suasana upacara pemakaman acapkali sarat dengan aroma kemunafikan. Ada kata-kata isapan jempol, ada airmata buaya, dan ada muka kuda lumping alias pura-pura murung. Tampaknya ketulusan hati sudah menjadi barang mewah, hanya sedikit orang yang memilikinya. Tak heran Yesus menempelak, “…di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan” Matius 23:28)
Oktober 13, 2008
· Disimpan dalam Humor
TIDAK ADIL
Merasa nyaman berkendara di jalan tol, seorang pendeta muda memacu mobilnya di atas batas kecepatan. “Lagipula mobil-mobil lain juga berlari sama kencang,” katanya membatin.
Tetapi tiba-tiba dia terkesima ketika mendengar suara sirene. Polisi memerintahkannya supaya menepi dan menghentikan kendaraannya di bahu jalan.
“Keluarkan SIM anda,” perintah polisi.
“Kesalahan saya apa?” tanya pendeta muda itu.
“Anda mengemudi di atas batas kecepatan,” tukas polisi sembari menyerahkan surat “tilang” (bukti pelanggaran).
“Baiklah, saya ini seorang pendeta. Saya tidak mau berbohong. Tadi memang saya lari di atas 100,” akunya. “Tapi mobil-mobil lain juga belari di atas 100. Kenapa hanya saya yang ditilang? Ini tidak adil!”
“Begini, pak pendeta,” ujar polisi. “Waktu bapak mengadakan KKR, apakah semua jiwa yang hadir berhasil bapak selamatkan? Itu juga tidak adil!”
(Pesan moral: Soal keselamatan—seperti pelanggaran lalulintas—adalah pilihan orang yang bersangkutan; sementara itu, di sisi lain, usaha penarikan jiwa—seperti juga tindakan polisi terhadap pelanggar lalulintas—sering lebih terdorong oleh pencapaian target! Upaya yang lebih bersifat kuantitatif. Seyogianya penginjilan dilakukan dengan serius dan penuh pengorbanan bagai petugas pemadam kebakaran menyelamatkan nyawa korban, sesuai perintah ini: “Selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api” Yudas 1:23)
Oktober 13, 2008
· Disimpan dalam Humor
TIDAK TERBAGI
Seorang pebisnis sedang memerlukan tambahan modal sebesar Rp 100 milyar untuk mengembangkan usahanya. Sebuah proposal sudah disiapkannya, dan dalam perjalanan ke bank dia mampir di gereja untuk berdoa memohon supaya upayanya diberkati.
Ternyata di depan altar sudah ada orang lain, seorang pria berpakaian sederhana yang juga datang untuk memanjatkan doa. Ketika berlutut tak jauh dari pria itu sang pebisnis mendengar sebuah bisikan dengan suara lirih, “Tuhan, saya memerlukan uang seratus ribu rupiah sekarang juga untuk membeli obat buat anak saya…”
Demi mendengarnya pebisnis itu langsung merogoh dompet, mengeluarkan selembar uang Rp. 100.000,- dan langsung menyelipkannya ke tangan pria yang sedang berdoa itu. Beberapa detik kemudian pria itu bangkit berdiri dan berlalu dengan takzim.
“Ya Tuhan,” kata pebisnis itu memulai doanya, “sekarang di sini hanya ada saya sendiri sehingga perhatian Tuhan tidak terbagi, dan saya memohon…”
(Pesan moral: Terkadang dalam berdoa kita juga bisa bersikap egois. Bukankah dalam doa pribadi kita lebih banyak memohon untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga kita sendiri? Sehingga meski sudah berdoa, “… tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” Yakobus 4:3)