Arsip untuk Oktober 9, 2008

Menertibkan Kabel di Rumah

Menertibkan Kabel di Rumah
 
Kabel- kebel di rumah Anda berantakan dan kusut? Tak perlu pusing, atasi dengan roll bekas dari tissue gulung Anda. Bebas biaya dan mudah.

Untuk mendekorasi rumah, tak selalu harus menggunakan barang-barang baru. Jika kita perhatikan, banyak sampah rumah tangga yang dapat didaur ulang dan dijadikan dekorasi rumah.
Untuk mengatasi kabel-kabel yang kusut dan berantakan misalnya. Anda hanya perlu menyiapkan roll bekas tissue gulung serta beberapa lembar koran bekas. Untuk membuatnya ikuti langkah berikut.

Langkah pertama, siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, Gunting, double tape, roll bekas tisssue gulung dan potongan koran bekas.

Langkah kedua, potong koran bekas dan tutupi seluruh permukaan roll tissue dengan koran tersebut. Rekatkan dengan double tape.

Langkah ketiga, potong-potong sisa kertas di bagian atas dan bawah roll dengan jarak sekitar 1 cm. Kemudian lipat kearah dalam, rekatkan dengan double tape.

Dengan tiga langkah praktis, kini Anda bisa membuat rumah lebih rapih dan bebas dari kabel yang berantakan dan kusut.

(CBN)

Komentar bertahan »

Mendongkrak Nilai Jual Rumah

Mendongkrak Nilai Jual Rumah
 
Bingung ingin menjual rumah tidak laku-laku? Tak sedikit orang yang mengalami hal demikian, bahkan hingga hitungan tahun pembeli tak kunjung datang.

Memasang iklan di koran, majalah atau menggunakan agen properti tidak menjadi jaminan bahwa rumah akan cepat terjual. Banyak hal yang menjadi penyebab, salah satunya adalah masalah harga.

Tak sulit menemui rumah dengan harga yang menjulang tinggi di lokasi yang jauh dari kesan elite. Banyak pemilik rumah tidak menyadari hal ini dan hanya memperhitungkan keuntungan. Namun alih-alih mendapat untung, rumah tersebut justru tidak laku karena kehilangan pembeli potensial.

Sementara itu, bila harga yang ditawarkan lebih rendah dari harga pasar memang bisa menarik banyak peminat. Namun jangan lupa juga, terkadang bisa timbul asumsi negatif dari pembeli bahwa ada sesuatu yang salah pada rumah tersebut bila harga yang ditawarkan terlalu rendah. Lagipula, bukankah bila akhirnya rumah laku terjual dengan harga di bawah rata-rata, Anda dapat dianggap
merugi karena seharusnya bisa memperoleh lebih. Serba salah, bukan?

Itu sebabnya dibutuhkan pertimbangan yang cermat dan matang sebelum menentukan harga rumah untuk menghindari hal-hal tersebut di atas. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan antara lain lokasi rumah, harga pasaran di lokasi tersebut, lingkungan sosial, fasilitas infrastruktur maupun fasilitas yang dimiliki rumah seperti adanya perangkat AC, water heater dan lain-lain.

Semakin lengkap fasilitas yang dimiliki atau semakin strategis lokasi sebuah rumah dapat mendongkrak nilai jualnya. Cobalah meminta perkiraan harga jual ini dari tiga agen yang berbeda dan bandingkan nilainya. Bila sudah ada calon pembeli yang berminat, ingatlah faktor-faktor penting yang menjadi nilai plus dari rumah Anda, misalnya rumah yang tertata rapi dan dalam kondisi baik, memiliki pendingin udara di setiap kamar atau lokasi rumah yang strategis. Hal ini bisa menjadi pegangan bagi Anda saat melakukan negosiasi dengan calon pembeli agar harga yang disepakati pun tidak turun terlalu jauh dari yang ditawarkan.

(RMC)

Komentar bertahan »

Melawan Orang Tua

MELAWAN ORANGTUA

 

Seorang anak laki-laki datang menemui ibunya yang sudah lama tak ditengoknya. Dia ingin memberitahukan tentang rencana perkawinannya. Tumben. Padahal sejak kecil dia suka melawan orangtua dan tidak mau mendengar nasihat ibunya.

“Bu, saya mau perkenalkan calon istri saya,” katanya memberitahu.

“Mana calon istrimu?” tanya ibu.

“Besok baru saya bawa,” ujarnya.

Keesokan harinya dia muncul lagi. Bukan dengan seorang gadis, tapi tiga orang!

“Bu, ini hanya iseng-iseng saja,” bisiknya kepada ibunya di dapur. “Di ruang tamu ada tiga perempuan. Ibu tebak ya, mana di antara mereka yang akan saya nikahi,” katanya

Demi melihat ketiga gadis itu, ibunya langsung berkata: “Perempuan yang pakai baju merah itu, yang duduk dekat pintu.”

“Wah, tebakan jitu. Tapi bagaimana ibu bisa tahu?”

“Karena saya tidak suka dia!” sahut ibunya cemberut.

 

(Pesan moral: Acapkali terbukti bahwa ibu sering memiliki firasat yang tajam. Sayangnya banyak anak-anak yang tidak menghargai, sampai hidup mereka ditimpa kemalangan. “Hormatilah ayahmu dan ibumu—ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi” [Efesus 6:2,3.] Bahagia dan umur panjang; apalagi yang dicari seorang anak manusia di dunia yang fana ini? Karena itu, perhatikanlah!)

Komentar bertahan »

Berjudi

BERJUDI

 

Beberapa petugas kepolisian menggerebek sebuah rumah yang dicurigai sering digunakan sebagai tempat untuk berjudi. Mereka kaget menemukan pak haji, pendeta, dan pastor sedang duduk di sebuah meja menghadapi tumpukan kartu.

Begitu melihat polisi datang, pak haji langsung menadahkan tangan sambil berdoa dengan nyaring: “Astagfirulah, jauhkanlah kiranya hamba-Mu dari perbuatan laknat ini!”

Pendeta yang duduk di sebelahnya tidak kalah gesit. Diapun langsung mengatupkan tangan dan menundukkan kepala. “Ya Tuhan, syukurlah Engkau meluputkan hamba-Mu dari perbuatan dosa ini!”

Polisi yang mendatangi meja mereka bertanya, “Pak Haji main judi ya?”

“Amit-amit!”

Polisi beralih kepada pendeta. “Bapak berjudi?”

“Dijauhkan Tuhan!”

Lalu polisi bertanya kepada pastor. “Romo berjudi ya?”

Sambil mengangkat bahu pastor menjawab, “Dengan siapa?”

 

(Pesan moral: Mengelak kesalahan dengan berdalih adalah salah satu “warisan” nenek moyang pertama manusia. Motif dan kecanggihan membuat dalih mungkin berbeda, tapi keberanian melakukannya masih sama. “Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih” [Pengkhotbah 7:29]. Kalau terhadap Tuhan saja kita berani mengelak, apalagi terhadap sesama?)

Komentar bertahan »

Banyak Munafik

BANYAK MUNAFIK

 

Suatu hari secara kebetulan pendeta bertemu dengan seorang pria, anggota jemaatnya yang sudah lama tak muncul di gereja.

“Apa kabar, saudara?” sapa pendeta.

“Oh, saya baik-baik saja,” sahut pria itu agak terkejut.

“Ke mana saja selama ini? Sudah lama saya tidak melihat anda di gereja,” pendeta bertanya dengan ramah.

Sembari mencibir pria itu menjawab, “Habis, sekarang di gereja banyak orang munafik.”

Lalu pendeta membalas sembari tersenyum, “Anda tahu gereja kita cukup luas. Tambah satu lagi masih bisa!”

 

(Pesan moral: “Udang menuding kepiting, dibakar sama-sama merah” adalah pepatah lama untuk melukiskan orang yang mencela sesamanya. Menilai diri sendiri lebih baik dari orang lain adalah salah satu penyakit kronis di masyarakat, apalagi di gereja. Berhati-hatilah, “karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi kamu akan dihakimi, dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu” [Matius 7:2].)

Komentar bertahan »

Masalah Yang Sama

MASALAH YANG SAMA

           

Pada akhir semester, bersamaan dengan jadwal menerima rapor, Pak Guru mengirim surat tentang keadaan Deri kepada ibunya.

Isinya antara lain: “Deri sebenarnya seorang anak yang pintar, tapi nilai rapornya menurun karena belakangan ini dia lebih banyak memikirkan tentang teman-teman gadisnya.”

Beberapa hari kemudian Pak Guru menerima surat balasan dari ibunya Deri.

Isinya: “Kalau anda sudah berhasil menemukan jalan keluarnya, harap diberitahukan kepada saya. Sebab saya juga menghadapi masalah yang sama dengan bapaknya!”

 

(Pesan moral: Pepatah lama mengatakan: Seperti bapaknya, begitu juga anaknya. Secara naluri seorang ayah ingin kalau anak laki-lakinya seperti dia, untuk hal-hal yang positif; tapi tidak ada orangtua yang bersedia dituding bahwa kenakalan anaknya karena bawaan orangtuanya. Ini salah satu ketidakadilan berpikir dari orangtua. Sebab itu, “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” [Amsal 29:17].)

Komentar bertahan »

Dimana Tuhan?

DI MANA TUHAN?

           

Sumo dan Badu adalah kakak-beradik yang terkenal berandalan. Ada saja keonaran mereka buat, mulai dari mengganggu orang, berkelahi, mencuri, merusak barang orang, dan berbagai kenakalan lainnya.

            Suatu hari Badu tertangkap tangan ketika sedang mencoret-coret tembok gereja. Dia langsung digiring ke kantor pendeta.

            “Kamu tahu Tuhan?” tanya pendeta.

            “I-iya, pak,” jawab Badu  gemetaran.

            “Di mana Tuhan?”

            “Ti-tidak tahu, pak.”

            “Tidak mungkin kamu tidak tahu. Ayo jawab, di mana Tuhan?” desak pendeta.

            Dasar anak badung, Badu langsung melesat keluar dan berlari pulang. Sampai di rumah dia mencari kakaknya, Sumo.

            “Gawat! Kita disangka mencuri!” katanya dengan suara terengah-engah.

            “Mencuri apa? Siapa yang bilang begitu?!” tanya Sumo.

            “Tadi saya ditanyain pak pendeta, di mana Tuhan. Mereka sangka kita yang curi!”

 

(Pesan moral: Pada waktu senang kita merasa Tuhan itu amat dekat, tapi manakala susah dan lemah kita merasa Tuhan itu jauh. Bahkan tak jarang sampai meragukan keberadaan-Nya. Tetapi kesusahan “dibiarkan” terjadi dalam hidup kita supaya kita menyadari bahwa “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” [Mazmur 34:19]. Namun, seperti si Badu, kita sering salah sangka!)

Komentar bertahan »

Minta Sepeda

MINTA SEPEDA

           

Doni, seorang anak remaja, tertangkap satpam ketika hendak mencuri sepeda di gereja. Dia dibawa menghadap pendeta.

            “Kenapa kamu mencuri?” tanya pendeta.

            “Saya ingin sebuah sepeda,” jawab Doni.

“Kenapa tidak minta dari Tuhan? Jangan mencuri sepeda milik orang.”

            “Sudah sebulan saya berdoa minta sepeda dari Tuhan, tapi belum diberikan juga,” tukas Doni. “Lalu saya mendengar pendeta berkhotbah bahwa Tuhan tidak menjawab doa kita dengan mengirim dari langit apa yang diminta, tapi kita harus berusaha.”

            “Jadi, kenapa kamu mencuri milik orang?” tanya pendeta.

            “Itu usaha saya.”

            “Tapi mengambil milik orang lain itu namanya mencuri, dan itu melanggar hukum Tuhan.”

            “Saya tahu itu,” kilah Doni lagi. “Tapi pendeta juga mengatakan bahwa Tuhan mengampuni segala dosa kita. Jadi saya berusaha semampu saya dulu, baru minta pengampunan dari Tuhan. Maukah pendeta mendoakan saya sekarang?”

 

(Pesan moral: Banyak di antara kita yang memiliki jalan pikiran seperti itu: berbuat dulu baru minta pengampunan. Memang, Rasul Paulus berkata, “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” [Roma 5:20]. Seperti sel-sel darah putih yang gugur berperang melawan infeksi di tubuh kita berubah menjadi nanah, maka kehidupan seseorang yang berlumuran dosa dan terus memeroleh kasih karunia dirinya pun bertaburan nanah!)

Komentar bertahan »

Sama

SAMA

 

            Hasil penilaian lomba mengarang cerita bertema ‘Ratu Ester’ yang dikumpulkan Sabat lalu diumumkan guru Sekolah Sabat Remaja.

“Jaka, kamu menyontek ya?” tanya guru kepada salah seorang murid.

“Tidak, pak. Saya tidak menyontek!” Jaka menyangkal.

“Tapi kenapa karangan kamu sama persis dengan karangan Insan?” desak guru. “Atau Insan yang menyontek dari Jaka?”

            “Saya tidak menyontek, pak.” Insan juga menyangkal.

“Tapi isi karanganmu sama dengan Jaka,” tukas guru.

“Ya, pasti sama, pak. Itu ‘kan cerita tentang Ratu Ester yang sama!” sahut Insan lagi.

            “Betul, pak. Alkitabnya juga sama!” Jaka menimpali.

 

(Pesan moral: Alkitab pasti tidak bohong, tetapi orang yang berbicara di atas Alkitab belum tentu berkata jujur. Orang-orang boleh mengaku beribadah kepada Allah yang sama, namun perbuatan mereka belum tentu sama-sama baik dan benar. Sebab, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga” Matius 7:21.)

Komentar bertahan »

Bingkisan

BINGKISAN

 

            Hari itu murid-murid kelas 4 SD mengadakan acara perpisahan dengan guru agama mereka yang dialihtugaskan ke sekolah lain. Anak-anak sangat menyayanginya, karena selain ramah dan lembut juga pintar bercerita kisah-kisah dari Alkitab.

            “Bu Guru, kami akan memberikan bingkisan kenang-kenangan,” ketua kelas memberitahukan, yang disambut dengan senyum haru oleh guru mereka itu.

            Seorang murid perempuan, anak pemilik toko kembang, maju dan menyerahkan bingkisan agak panjang tapi ringan. “Ibu tahu, ini pasti karangan bunga,” kata Bu Guru ceria.

            “Betul, bu. Tapi bagaimana ibu tahu?” tanya murid perempuan itu.

            “Ah, ibu hanya menebak saja.”

            Murid kedua maju. Anak pembuat kembang gula dari cokelat itu menyerahkan sebuah kotak. “Kalau ini isinya pasti permen cokelat,” kata Bu Guru.

            “Betul. Bu guru koq tahu ya?” tukas anak itu.

            “Ya, ibu cuma tebak saja.”

            Boy, anak penyalur minuman anggur dalam botol, maju menyerahkan bingkisannya. Tapi tampaknya ada cairan yang  meleleh keluar. Mungkin ada yang bocor, pikir Bu Guru. Dengan ujung telunjuknya Bu Guru mencicipi cairan yang meleleh itu lalu berkata, “Apakah ini minuman anggur putih?”

            “B-u-k-a-n,” jawab Boy.

            Bu Guru mencicipi untuk kedua kalinya. “Oh, ini seperti sampanye ya?”

            “Bukan juga,” sahut anak itu riang karena gurunya salah tebak lagi.

            “Ibu menyerah deh,” ujar Bu Guru pada akhirnya. “Apa isinya, Boy?”

            “Anak anjing, Bu!” seru anak itu.

Bu Guru terkejut bukan alang-kepalang sembari wajahnya berubah kecut. Hyaak!

 

(Pesan moral: Banyak masalah timbul karena kita tidak tahu sesuatu, tetapi lebih banyak lagi masalah yang terjadi akibat kita terlalu banyak tahu. Terkadang ‘bersikap tidak tahu’ lebih bijaksana daripada ‘berlagak serba tahu.’ Sebab itu, “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat” [1Korintus 3:18].)

Komentar bertahan »